Aku tahu perempuan selalu istimewa untuk laki-laki
Sejak ia hadir di dunia sampai berhenti napasnya
Aku tahu perempuan tak bisa dipaksakan untuk hal apapun
Karena memang munculnya dari tulang yang tak lurus
Aku tahu perempuan adalah cahaya dalam rumah
Dikala ia hadir dalam hati yang memendam dendam
Aku tahu perempuan adalah kebanggaan sang ayah
Karena memang ia adalah cinta pertamanya
Aku tahu perempuan
Karena aku laki-laki
Yang akan menjadi cinta pertamanya
Dan yang akan ia rindukan
"Lalu bagaimana dengan ibu ?"
Kamu tahu, ibu juga perempuan dambaan
Yang juga dirindukan dan yang akan menjadi cinta pertama untuk laki-laki
"Aku tak percaya ! Bagaimana kau tahu ?"
Karena aku laki-laki, yang menjadikan ibu sebagai cinta pertama
Dan yang dijadikan perempuan sebagai cinta pertamanya
Fathy Rahman Ismail
Jejak-Jejak Mimpi
Cari Blog Ini
Kamis, 23 Juli 2015
Sabtu, 04 April 2015
Aku (Juga) Manusia
Sejak umurku lima tahun
sampai diumurku yang berkepala dua sekarang ini, hidupku tak seindah manusia
yang normal. Di dunia ini cuma kami yang merasa kesulitan untuk menunjukan diri
pada dunia luar, cuma kami orang-orang yang tak lengkap jasmani dan rohaninya,
salah apa kami harus menanggung semua beban ini, salah apa.
Aku berkulit putih
langsat, perawakanku tegap, tinggi seratus tujuh puluh sentimeter, hidungku
mancung, rambutku pekat hitam, disisir belah sisi, bibirku tebal menawan, tak
berkumis, kupangkas habis kumisku, agar selalu kelihatan muda, daguku terbelah,
sedikit berjenggot, mukaku sedikit lonjong, muka putih bersih, namun tak dapat
aku berlari dari kenyataan, mataku, mataku yang besar dan kelihatan ingin
keluar dari tempatnya, dan aku sangat pendiam, diam, sungguh sangat diam, semua
orang pasti kesal jika bertanya atau menyapaku, aku pasti selalu diam.
“belo, Guntur belo,
mata si Guntur belo, Guntur belo” begitu orang-orang mencaciku.
Sejak orang-orang
mencaciku, aku tak lagi bisa bernapas bebas, setiap ingin pergi keluar bersama
ibuku, aku selalu was-was, selalu waspada jika nanti orang-orang disekitar
mencaciku. Nampaknya efek dari penghinaan dan sifatku yang selalu diam selama
lima belas tahun berpengaruh dalam kehidupanku, aku tak kunjung punya teman,
tak bersekolah, karena teman-temanku yang sama-sama mencaci seperti orang
kebanyakan, dan juga aku yang tetap bersikukuh mempertahankan sifatku yang diam
membisu, guru bertanya saja kepadaku, aku tetap diam seribu bahasa. Sejak putus
sekolah, yang aku lakukan hanya pergi ke pasar, melihat ibu dan ayah yang
sedang berjualan, lalu sore harinya pulang sendiri, berjalan kaki,
kadang-kadang anak muda yang masih berumur belasan mencaciku saat berpapasan.
“Guntur belo, Guntur
belo, Guntur belo”.
“silakan kalian caci
aku sepuas mulut kalian, aku takkan gentar, namun jika kalian mengejek ibuku,
akan aku hajar habis-habisan” dalam hatiku.
Aku hanya diam, pasrah,
tak dapat kutimpali cacian mereka, meski aku bisa, aku tak bisa marah, aku juga
tak tahu, bingung dengan sikapku. Selain orang-orang yang terang-terangan
mencaci didepan umum, ada satu lagi orang yang benar-benar kutandai, biar nanti
aku bisa balas dendam. Dia seorang wanita, sungguh aku sangat kesal dan marah
jika bertemu dengannya. Dia mencaciku sangat dalam, dia mencaciku dengan
senyumannya, sakit, terasa sakit didadaku ketika dia tersenyum mencaciku,
senyumannya bagiku bagaikan pisau berkarat yang sengaja langsung ditancapkan ke
jantungku, perih. Dia wanita yang paling kubenci di dunia, entah siapa namanya,
aku tak peduli pada wanita pendek, hitam, dan tua itu, aku tak peduli, lihat
saja nanti saat aku mengepalkan keberanian, akan aku caci kau berkali-kali lipat
sakitnya di depan umum, lihat saja, aku akan mempermalukanmu wanita pendek
jelek itu.
Saat malam, saat ibu
dan bapakku pulang ke rumah, aku juga harus waspada, pada bapakku yang mantan
preman itu. Sejak aku mengerti kenapa aku selalu dimarahi jika berkata apapun
kepada bapakku, bapak selalu menjawab dengan kasar padaku, itu karena dia malu,
malu mempunyai anak sepertiku, malu pada tetangga, malu pada teman-temannya,
malu pada keluarga, dan bahkan malu pada dirinya sendiri, untung saja ada ibu
yang selalu menjaga dan menyayangiku, karena bapak sangat mencintai ibu, jika
ada ibu, bapak tidak berani memarahiku, dan aku juga tak berani lagi untuk
bertanya ataupun berbicara pada bapak.
Ibuku seorang ibu rumah
tangga yang berjualan berbagai macam urusan dapur, garam, gula, cabe, bawang
merah, bawang putih, kunyit, dan bumbu dapur lainnya, kadang-kadang juga
menjual sayuran, itu juga jika ada keuntungan yang lebih, sedangkan bapakku sendiri
yang membeli barang-barang keperluan ibu berdagang, bapak menyediakan barang,
dan ibu yang menjualnya.
Dirumah masih ada satu
lagi anggota keluargaku, dia lebih memprihatinkan kondisinya daripada aku, aku
kehilangan fisik, sedangkan dia kehilangan jiwa, gila. Dia adalah kakak kandung
ibuku, dia gila karena dicerai oleh suaminya, ditinggalkan begitu saja tanpa
alasan yang jelas, karena dia sangat mencintai suaminya, dia sangat frustasi,
pernah dia mencoba bunuh diri kata ibuku, namun tak sampai, ibuku memergokinya
sebelum dia meneguk segelas obat nyamuk, sejak peristiwa tersebut dia menjadi
gila, gila selamanya. Bapakku sama sekali tidak membencinya, dan aku benci
kenapa hanya aku yang dibenci oleh bapakku, karena bapakku tak pernah
membencinya, maka aku membencinya, melampiaskan semua amarah padanya,
mengeluarkan emosiku sejadi-jadinya pada dia, kakak kandung ibuku yang gila,
sebut saja namanya Pia.
Keseharian Pia semenjak
gila hanya mengurung diri dikamar, berteriak-teriak tidak jelas, mandi harus
dimandikan oleh ibuku, makan dan minum pun harus disuguhkan, begitu juga dengan
buang air besar dan kecil ibuku yang membantunya. Saat ibu dan bapakku dipasar,
sering sekali aku memarahinya tanpa sebab, aku tak pernah menyimpan hormat
padanya, secuilpun tidak.
Kegiatan sehari-hariku
sangat membosankan, hanya ke pasar, di pasar juga aku hanya melihat ibuku yang
berjualan, tapi di pasar lebih nyaman, karena orang-orang di pasar tak pernah
mencaciku, mungkin menghormati ibuku. Ada bagiku saat-saat dimana kehidupan tak
membosankan, disaat itu bunga-bunga seperti berjatuhan dari langit,
menghujaniku dengan harumnya aroma bunga langit, saat itu adalah saat aku
bertemu dengan wanita yang aku impikan, yang aku cintai, yang aku akan jadikan
pendamping setia dalam sisa-sisa hidupku, namanya Andini, tetanggaku yang
pintar, cantik, supel, memang sedikit angkuh, namun tak pernah malu dan mencaci
padaku yang tak biasa ini.
Aku tahu, aku sadar
diri, tak pantas seorang yang buruk rupa seperi diriku disandingkan dengan
malaikat cantik dan rupawan. Walaupun kenyataan selalu pahit bagiku yang
fisiknya tidak normal ini, tak apa, tak apa aku jatuh hati padanya, aku juga
manusia, punya hati dan perasaan, dan siapa juga yang melarang jatuh cinta
padanya, pada Andini, bidadari yang menjelma, tak ada yang melarang bukan.
Hujan yang bersekongkol
dengan angin seakan memerintah, untuk mengecap kembali mega yang selalu hilang
oleh malam, membuka kembali rahasia-rahasia yang disimpan oleh langit yang
merekah, meminta-minta agar mengingat akan indahnya langit biru berbunga harum
manis, dan abu yang anggun, yang bermain disudut bangku, sedang asyik
memilin-milin waktu, bersama kuning madu yang tersembunyi dibalik hitamnya
rembulan, menguatkanku akan indahnya merah jambu, kaulah Andiniku.
Andini, gadis cantik,
tetanggaku yang baik hati dan menawan, seorang receptionist di Bank Kota, aku taksir tingginya sama sepertiku, kulitnya
putih alami, wajahnya oval, ada
lesung pipi diwajahnya saat dia tersenyum, rambutnya lurus hitam, jika dirumah rambutnya
sering dikuncir satu, matanya bulat sedang, kupingnya kecil khas orang-orang
pintar, kakinya mulus, seksi, tak ada kekurangan yang nampak padanya, aduhai
bodinya. Tak jarang pria sepertiku selalu memikirkannya, selalu mencari
perhatian saat dia dirumah, berpura-pura ingin pinjam sesuatu, padahal aku
hanya ingin melihat wajahnya yang membiaskan ketentraman, untuk kubawa pulang,
untuk kuabadikan dalam ingatan.
***
Malam ini malam minggu,
semua laki-laki yang seumuran dikampungku pergi bermain, entah itu bermain
dengan teman laki-lakinya, atau bermain dengan teman-teman perempuannya, aku
tak peduli, karena aku laki-laki yang bermalam minggu dirumah, nonton tv di
ruang tengah dengan ibu, dan aku juga benci dengan malam minggu, karena ada
saja laki-laki yang mengunjungi Andini pada malam minggu, malam minggu sungguh
malam yang aku benci. Untungnya bapak selalu keluar pada malam minggu, bermain
kartu dengan teman-temanya, mungkin sambil berjudi, dan aku senang bisa nonton
tv berdua dengan ibu, kalau saja bapak tidak keluar saat malam minggu, aku bisa
terus-terusan kesal dikamarku sambil memperhatikan dari jendela Andini dan
laki-laki lain sedang bercanda berdua diluar, entah apa yang sedang mereka
bicarakan, aku tak tahu, aku tak mau-menau.
Gerimis datang, angin
kencang, ibu was-was, mimik wajah ibu tak seperti biasanya khawatir pada bapak
yang belum pulang, padahal sudah jam sepuluh malam, padahal biasanya bapak
pulang tepat jam sembilan malam.
“Bu… Bu minah, Bu
minah, Bu minah” teriak seseorang dari luar memanggil ibuku.
“iya, ada apa ya pak
malam-malam begini?”
“anu Bu, suami ibu”
“suami saya kenapa ya
pak?”
“suami ibu sudah me…,
ayo Bu ikut saja sama saya ke pos ronda”
Ibuku diam saja,
matanya memerah, dia seakan tahu apa yang terjadi dengan bapakku, ibu ikut
begitu saja dengan bapak tua itu, sedangkan aku dirumah menyepi dengan tv.
Lima belas menit
berlalu, didepan rumah orang-orang telah ramai, ibuku menangis, menjerit
histeris, mengumpat pada takdir, kenapa dunia makin kejam. Aku keluar, berlari,
mendekati ibu, memeluknya, seerat-eratnya, mendengar ibu terus menangisi
kepergian bapak untuk selama-lamanya, aku ikut menangis, bukan karena kepergian
bapak, tapi karena melihat ibu menderita dan tersiksa, melihat ibuku yang
bercucuran air mata, ingin sekali aku berteriak sejadi-jadinya, “siapa yang
membikin ibuku macam ini” tantangku pada dunia.
Esoknya, pagi-pagi
sekali bapakku dikebumikan, sedangkan ibuku tak henti-hentinya merengek dari
malam sampai selesai penguburan, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk
menghentikan rengekan ibu, aku harus apa, entah, baru kali ini aku melihat ibu
menangis sejadi-jadinya, terlihat sekali sayangnya ibu pada bapakku, semoga
jika nanti aku pergi duluan, ibuku bisa menangis lebih keras daripada saat
kehilangan bapak, semoga sayangnya yang paling hanya untukku seorang, semoga.
Setelah semua orang
pergi dari penjarahan, tinggal aku dan ibu disitu berdiam diri menatapi dan
meratapi kuburan bapak, cuma kami, hening. Lima belas menit ibu merengek,
tangannya mengusap-usap tanah kuburan bapak, air matanya bercucuran tak karuan,
aku kebingungan untuk mengajak dia pulang, aku beranikan menyerukan suara.
“Bu, ayo pulang”
Ibuku tak menjawab, rengekannya
sudah mereda, namun masih tetap diam.
“Bu, ayo kita pulang”
Ibuku masih diam, tapi
dia menguatkan hati dan pijakannya untuk pulang, dan aku gandeng tangannya,
biar kuat, biar perasaanku mengalir melalui tangannya, dan aku masukkan
kata-kata melalui sentuhan tanganku bahwa masih ada aku, anakmu yang akan
selalu ada disampingmu bu, ada aku.
Di perjalanan pulang
masih kulihat bekas tangisan diwajahnya, sulit kulukiskan bagaimana perasaan
yang bergejolak dan berkecamuk dalam jiwanya, aku hanya bisa diam. Orang-orang
yang melihatku merasa iba atas takdir yang semena-mena merenggut bapak yang
dicintai oleh ibuku, bapak yang menjadi penguat dan tulang punggung keluarga,
meski aku benci padanya.
Disamping itu anak-anak
belasan tahun yang sering mencaciku berpapasan dan melihatku dengan mata kasihannya,
tak sanggup lagi mereka menghinaku, karena aku sudah tak pantas dihina, tak
dihina saja aku sudah hina. Baru aku tahu dari orang-orang yang berbisik
mengenai kematian bapakku, katanya bapakku mati ketika dia sedang bermain kartu
di pos ronda. Malangnya nasibku, bertambah pula beban hinaan yang menempel
dalam pundakku, bukan untuk sehari, sebulan, ataupun setahun, tapi untuk
selama-lamanya, sepanjang aku hidup.
Seminggu berlalu
meninggalkan jejak-jejak kehampaan, yang menghantui ibuku, ibu frustasi, tak
berjualan lagi ke pasar semenjak bapak meninggal, dia murung, tak urung mau
makan, tak mau keluar, cuma air mata yang membekas dikedalaman hati, cuma
duri-duri yang menyiksa kala siang maupun malam, dan aku disini, disamping
ibuku, cuma bisa diam.
Sudah genap tiga puluh
hari ibuku bermurung durja, kini kami kehabisan uang, tak tahu lagi harus
kemana mencari uang. Di malam ini, malam minggu yang aku benci, ibu nekat, jam
tujuh malam meninggalkan aku berdua denga Pia yang gila, katanya ibuku mau
mencari uang ke negeri seberang. Ibuku jadi TKW di Malaysia, rela berpisah
dengan anak satu-satunya.
“Tur, setelah ibu ada
di Malaysia, ibu nanti kirim uang sebulan sekali, dan jangan lupa jaga dan urus
Bu’de Pia baik-baik ya, kaya kamu menjaga ibu”
“Bu, jangan pergi ke
Malaysia, nanti Guntur disini ama siapa”
“Tur, ibu juga
sebenarnya gak mau jauh dari kamu, tapi mau gimana lagi, cuma ini satu-satunya
untuk menyambung hidup kita, cuma ini”
Aku diam, tak
mengiyakan omongan ibu dan juga tak melarang ibu ke Malaysia, membiarkan ibuku
pergi begitu saja, membatu di depan tv. Harus bagaimana aku memulai hidup tanpa
ibu, tanpa belahan hatiku, aku bisa gila bu. Aku tak bisa hidup seperti ini,
hidup dengan Pia gila itu, aku tak mau. Aku putuskan tuk mencari teman
sepenanggungan, sahabat hidup semati, seorang istri, yang terpikir dibenakku
hanya Andini.
Bagaimana kabar Andini
sebulan ini, aku sedikit lupa tentangnya, entah kenapa aku ingin mengetahui
kabarmu, mungkin karena kicauan angin yang selalu mendorongku mendobrak batas
normal para lelaki. Didepan rumahku kusapa dia yang sedang duduk melamun di
pekarangan rumahnya, untuk yang pertama kali kusapa dia dengan memanggil
namanya.
“Andini”
“iya Tur, ada yang bisa
aku bantu ?”
Aku diam mendengar
jawabannya, aku gugup, aku kembali saja kedalam rumah, menutup pintu dengan
perlahan. Didalam rumah aku bingung, kosong, seakan tak percaya Andini membalas
semua kicauku, mungkin langit berkehendak lain. Tadinya aku ingin menghapus
semua ingatan yang berserakan dalam napasku, melupakanmu Andini, walau berat.
Sekali lagi Andini
bertanya kepadaku melalui pesan singkat yang sengaja dia kirim, mungkin dia
mengkhawatirkanku, dan darimana pula dia tahu nomor ponselku, aku tak tahu.
“ada apa?” Andini
bertanya dalam ruang hampa.
Aku hanya bisa diam,
tak menjawab pesan singkatnya. Aku bingar, tak dapat mengendalikan diri,
semalam suntuk mendengar Andini lewat celah-celah mimpi, “harus bagaimana
memberanikan diri, agar Andini mau menjadi istriku” resahku menemani malam.
Lagi, kutatapi rinai
hujan yang kencang seperti pikiranku yang berada di peraduan, bingung, malas
bertengger. Kecantikan Andini masih seperti dulu, mengalahkan lelaki yang tak
punya harga diri, seperti aku. Kubuka lagi awal yang tak bisa kumulai, melalui
dunia maya akan kukirimkan salam sekaligus perpisahan. Membaca pikiran Andini,
tak mudah. Mau berkata apa lagi, menyapa saja aku tak sanggup, apalagi
membentangkan senyum yang penuh tanda tanya. Mungkin sedikit renungan yang
dapat membuka lebar garis wajahmu, Andini. Yang kutahu ada binar-binar senyum
yang ditutupi oleh keangkuhan, seperti gambar-gambar yang selalu kuratapi
setiap jengkalnya, memudahkanku untuk menemukanmu, wahai gadis impianku,
Andini, namun mau berbuat apa lagi, aku tak tahu seluk-belukmu, Andini, gadis
jelitaku.
Aku harus beranikan
diri untuk melamarnya, walau secuil, aku harus berkata-kata untuk meminangnya,
kali ini di malam minggu aku harus ungkapkan semua, malam minggu ini harus jadi
malam minggu yang membahagiakan bagiku. Setidaknya sebelum napasku menghilang, dapat
kusampaikan sepotong mimpi untuk meraih Andini, bersama ilalang hitam, bersama
kemarau yang berkepanjangan, bersama ringkihnya tubuhku yang memakan sisa-sisa
garam, walaupun kutahu, aku tak seutuhnya ada, apalah daya, aku manusia yang
tak sempurna. Tepat jam tujuh malam aku ke rumahnya.
“Andini, Andini”
“iya sebentar Fer”
“Fer ?, kenapa Andini
memanggilku dengan sebutan Fer” dalam bingungku.
“Andini, ini aku
Guntur, mau ngobrol sebentar, penting”
“oh Guntur, aku kira
Ferdi, sebentar ya Tur”
Tak lama Andini keluar,
duduk bersebelahan denganku di beranda rumahnya.
“ada apa Tur? Mau
minjem sesuatu? Mau minjem apa?”
“mmm… anu An, ini,
anu..” aku gugup, keringatan.
“apa? Katanya penting? Ngomong
aja apa yang bisa Andini bantu?”
“mmm…
anu, saya mau ngelamar Andini, Andini mau gak jadi istri Guntur?” dengan cepat
aku berkata.
“istri?” Andini
keheranan.
“iya, jadi istri
Guntur” aku menegaskan.
“jangan main-main soal
beginian Tur” Andini mulai serius, matanya mulai menajam.
“saya gak maen-maen An…
saya serius”
Andini
menghembuskan napas seolah dunia akan runtuh “hmmph… maaf ya Tur, kayanya kita
lebih cocok temenan, sekali lagi maaf ya Tur, aku udah tunangan ama Ferdi
sebulan yang lalu. Perempuan yang lebih baik daripada aku pasti banyak kamu temuin
di luar sana Tur, sekali lagi maaf ya Tur”
Aku diam lagi, tak bisa
berkata-kata, aku pergi meninggalkan rumah Andini, tanpa pamit, tanpa
mengucapkan sepatah kata apapun pada Andini, lidahku kelu, hatiku pilu,
tiba-tiba hujan didalam dadaku, ombak bergemuruh, badai menerjang, cintaku
bertepuk sebelah tangan, aku malu, bertambah pula bebanku, siapa yang akan
menerimaku.
“Tur, Tur, Guntur, mau
kemana?” teriak Andini memanggilku dari rumahnya.
Tetap, aku tetap diam,
tak menoleh ke belakang sedikitpun, hatiku remuk, aku pulang dengan beban yang
tertumpuk.
Di rumah, aku tepekur
seharian, mencaci takdir, mencerca dunia, merengek pada waktu. Aku ingin hidup,
aku ingin menikmati dunia, aku juga manusia, aku ingin hidup bebas, bukan
dengan semua beban ini, bukan dengan semua cacian, bukan.
Didalam keheningan,
kudapatkan kesadaran melalui angin, aku sadar, untuk apa aku selalu menggerutu
atas nasib yang selalu menimpaku, bukankah beban ini seharusnya menjadikanku
kuat, persetan dengan cacian orang-orang, masa bodoh dengan bapak yang tak
pernah ingin aku terlahir ke dunia, masa bodoh dengan cinta yang diberikan duka,
dan tentang Andini, enyah saja dari bumi.
Aku harus menjalani
kehidupanku yang sekarang, bukan yang kemarin, dan bukan pula berharap pada lusa
yang tak jelas janjinya, cukup aku hidup untuk sekarang, akan kujalani hidup
ini, akan aku urus dan kujaga Bu’de Pia sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh
ibuku, dan maafkan aku bapak, jika anakmu ini tak bisa membanggakanmu, tolong
maafkan aku.
Aku berjanji pada
diriku sendiri, tak akan ada lagi seorang Guntur yang dulu, yang selalu diam,
yang selalu mau dicaci orang-orang, dan yang tak pernah mengenal arti hidup,
tak akan ada lagi. Sekarang aku Guntur yang baru, Guntur yang akan melotot dan
menghajar siapapun yang mencaciku, Guntur yang akan menolong siapapun ketika
ada yang susah, dan Guntur yang akan membanggakan bapaknya, “Pak akan Guntur
panjatkan terus doa agar bapak bisa tersenyum di alam sana, agar kuburan bapak
luas, agar nanti bapak bisa menghirup udara firdaus yang segar di keabadian surga,
dan agar bapak tahu bahwa Gunturlah anak satu-satunya kesayangan bapak”. Aku
juga akan menjadi penyayang terhadap siapapun, khususnya terhadap ibu, akan aku
peluk dia dalam kehangatan rindu saat pulang nanti, kujemput dia, kucium
tangannya, kurangkul dia sambil menangis, sambil mengucurkan air mata
kebahagiaan, “Bu, Guntur akan melaksanakan amanah ibu, memberikan makan dan
minuman cinta untuk Bu’de Pia, memandikannya dengan kasih sayang, bahkan akan
menghiburnya dengan tawa yang ceria jika perlu” janjiku. Aku akan setia
menunggumu Bu, pulanglah dengan cepat Bu, karena aku rindu.
Hari minggu, Pagi ini
cerah, terang, jelas, segar, pas jam setengah sembilan. Baru saja aku melangkah
sejengkal ke pintu cahaya, cobaan nampaknya sudah ada, Andini ke rumahku
tiba-tiba bersama wanita yang paling aku benci dengan senyumannya yang dulu
selalu menghinaku, namun aku sudah berjanji pada diriku akan menjadi Guntur
yang baru, dan aku takan membenci siapapun, termasuk dia, wanita yang bersama
Andini”
“Tur, Guntur, Guntur”
“sebentar”
“pagi Tur, udah sarapan
belum”
“udah An…”
“ini ada beberapa kue
basah, lumayan untuk cemilan”
Andini memang gadis
yang baik, pria manapun akan beruntung memilikinya.
“makasih ya Andini”
“bilang makasihnya ke
Ani dong Tur, kan dia yang bawain kamu kue basah itu”
“Ani, siapa Ani ?”
“loh…
kamu gak tahu Tur, ini kenalin Ani tetangga sebelahku, dia sering ngomongin
kamu”
“Pasti Ani ngomongin
tentang kekuranganku” pikirku.
“oh ini namanya Ani,
maaf ya mba saya gak tau, makasih ya atas kuenya”
Ani cuma menimpaliku
dengan senyuman, senyuman yang sama seperti dulu.
“oh iya Tur, aku lupa
ngasih tau ke kamu, aku tau nomor ponsel kamu dari dia”
“Ani
tau nomor ponselku dari mana ya” pikirku.
“maaf mba Ani, kalau
boleh tau, mba tau nomor ponsel saya dari siapa?”
“saya tau nomor ponsel
Mas Guntur dari ibunya Mas Guntur”
Aku tak pernah tahu
tentang hal ini, dan ibuku juga tak pernah memberitahu.
“kita pamit ya Tur,
kalau perlu apa-apa bilang aja ya Tur”
“Ok, makasih banyak ya”
Andini sudah beranjak
untuk pulang, sedangkan Ani memberikan aku surat, aku juga tak tahu surat apa
itu. Setelah Ani memberikan surat itu kepadaku dengan cepat, Ani beranjak
terburu-buru menyusul Andini.
Segera aku buka surat
itu didalam rumah. Aku baca dengan teliti surat itu beberapa kali, aku
terheran-heran, ternyata aku salah besar tentang Ani, tentang senyumannya yang
dulu, aku pikir itu sebuah senyuman hinaan, ternyata itu adalah senyuman untuk
orang yang Ani sayang. Dalam suratnya, secara terang-terangan Ani mengakui
bahwa Ani sangat suka kepadaku semenjak pertama kali bertemu denganku, saat
berpapasan dulu. Dalam surat Ani memberitahuku bahwa Ani ingin mempunyai suami
seperti aku, Ani ingin diriku melamarnya, “pinanglah aku, aku akan selalu
menunggumu Mas Guntur” kalimat terakhir dalam surat Ani.
Aku bingung harus
menjawab apa, aku tak tahu tentang Ani, dan aku sama sekali tak menyukainya.
Ani Pendek, mungkin lebih rendah dari bahuku, kulitnya hitam, rambutnya sedikit
keriting tak terurus, hidungnya kecil pesek, matanya sipit, kupingnya lebar,
dan umur Ani yang lebih tua dua tahun dariku, namun bibirnya memang sedikit
tipis, imut bagiku.
Aku harus tegas
terhadap diriku, aku masih belum punya kepastian untuk melamar Ani atau tidak,
dan aku khawatir mengganggu keadaan ibu yang sedang bekerja di Malaysia, jika
aku ceritakan masalah ini pada ibu. Nanti saja setelah ibu pulang ke rumah, aku
akan cerita masalah ini pada ibu, jika ibu setuju Ani menjadi istriku, maka secepatnya
aku akan melamar Ani.
Aku tidak ingin
siapapun berharap padaku yang masih belum bisa berbuat apa-apa ini, aku tidak
ingin memberikan harapan kosong pada siapapun, maka aku harus membalas surat
Ani, menegaskan suatu keadaan. Aku kirim surat itu melalui Andini, isinya seperti
ini.
Kota Hujan, 20
September 2010
Kepada Ani yang penuh
kasih sayang
Ani, aku masih belum
punya apa-apa untuk diberikan kepadamu, kerja saja aku tak punya. Tolong jangan
terlalu berharap padaku yang banyak kekurangan ini.
Ada yang perlu aku tegaskan
kepadamu, aku tidak menunggumu, kau tidak menunggu apa-apa dariku, dan kita
tidak punya keterikatan apapun atau janji apapun. Jadi, dengan berjalannya
waktu, jika kau berubah pikiran dan menemukan yang lebih baik dariku, silahkan,
tidak menjadi masalah bagiku. Begitu juga sebaliknya, aku tetap memberi
kesempatan untuk yang lain.
Guntur yang bodoh
Continued…..
Sabtu, 22 November 2014
Jumat, 01 Agustus 2014
Gunung Pulosari - Pandeglang
Berawal dari
sebuah pernyataan “kita sering naek gunung, tapi gak pernah naek gunung di
daerah sendiri”. Saya mencoba memperkenalkan salah satu gunung di Pandeglang,
salah satu tempat rekreasi, walaupun menurut saya belum bisa disebut sebagai
tempat untuk berekreasi.
Data yang saya
miliki mungkin sangat kurang, tapi setidaknya teman-teman akan dapat sedikit
gambaran mengenai Gunung Pulosari ini. Data yang lain mungkin bisa tanya
langsung ke Mbah Google.
Untuk Pemula
khususnya orang pandeglang yang punya rencana naik gunung ke Merbabu, Semeru,
Rinjani, Cikurai, Papandayan, Ciremai, atau gunung manapun yang mengharuskan
pendaki untuk memiliki stamina ekstra, cobalah mampir ke Gunung Pulosari untuk
sekedar pemanasan, dan membuang penat, atau kalau bisa sekalian operasi semut,
hehe…
Pendakian ke
Gunung Pulosari versi saya membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dari tempat
parker yang disediakan khusus bagi yang membawa kendaraan apapun. Setelah itu
langsung jalan menuju Curug Putri, melewati beberapa pos bayangan.
Curug Putri dekat dengan Pos Bayangan 2, di Pos 2 ini, biasanya pengunjung
ataupun pendaki di minta bayaran lima ribu rupiah per kepala, katanya sih untuk
keamanan, padahal yang minta uangnya juga gak ngejagain kita. Tapi gak apa-apa lah
kalau punya uang lebih bayar aja, khawatir di cegat sama jawara di situ pas
pulang. Sebenernya gak bayar juga gak apa-apa kalau memang merasa udah punya
ilmu Kanuragan, hehe….
Air di Curug
Putri lumayan seger gan, enak untuk cuci muka dan basahin rambut.
Jangan lama-lama
main di curugnya, ayo lets go ke kawah belerang. Jalan dari curug ke kawah
lumayan lah untuk pemanasan, sedikit nanjak, pasti bisa lah.
Dari kawah menuju puncak, Cuma
beberapa meter aja harus nanjak. Intinya “Jangan ngeluh”, pasti bisa.
Untuk pendaki yang ingin
bermalam, saya sarankan untuk bermalam di Curug Putri atau puncak, jangan di
kawah, nanti bisa-bisa keracunan Gas Belerang.
Save Our Earth for Next Generation, Please....
Langganan:
Postingan (Atom)





