Cari Blog Ini

Jumat, 30 Agustus 2013

Bayanganku


Hitam wujudmu mengikutiku
Dalam terangnya ruangan yang menyelimuti kita

Gerakmu seperti ruh yang mengikuti raga
Berbuat apapun demi tuan
Yang merangkak menuju dunia

Engkau hadir dalam benderang
Yang menyilaukan hidupku

Namun engkau bersembunyi dari gelap
Dibalik punggungku yang condong
Bak pohon kelapa yang tinggi menjulang

Aku hidup, engkau hidup
Aku sakit, engkau sakit

Aku mati, engkau tak mati
Karena ditimbun tanah kehidupan
Membuat keluar dan meninnggalkanku

Dalam Keramaian, 20 November 2012

Dalam Kesendirian



Sendiri dalam kesunyian ditinggal mati oleh rindu
Karena terlalu bermain-main dengan nila yang kuanggap teman berdarah

Mataku menangis karena angin sedari tadi marah
Mendorong dan menamparku hingga hilang
Teman meninggalkanku dalam kamar nanah

Aku terperanjat dan membisu oleh waktu
Seakan menertawakan tiap tubuh yang amis

Membuat radang dalam hatiku
Yang kini bersemayam dengan tawa manis
Menyuruhku meninggalkan kau yang luput oleh gerimis

Wahai hujan yang turun dari celah-celah langit
Basahilah daku dengan dinginnya cinta

Yang kureguk, yang kutanam
Dengan menutup mata yang mudah ditipu
Oleh dunia yang sedari tadi menusukku dengan pisau berkarat


Bogor, 16 November 2012

Kembali Ke Hati


Wahai jiwa yang menggebu
Kau membawaku dalam tetesan cinta
Yang aku tak tahu apa namanya

Wahai rindu yang menyatu
Kau biarkanku terlelap dalam emosi kesedihan
Mengantarkan pada matahari yang berbinar
Dalam senyumku

Seakan menghapus kesedihan yang membakar
Disetiap rongga-rongga napas yang kini berjalan
Dan terhenti oleh sapaan halus

Milikmu yang kekal dan abadi
Pengubah rasa pahit bercampur manis
Mengubah sakit menjadi secercah harapan
Yang menyilaukan hitam dari bilik raga ini

Hanya padamu
aku mengadu
Wahai hati

Yang mengisyaratkanku pada hembusan ruang
Tanpa batas langit yang kelam
Penuh dengan tangan malaikat
Mengantarkanku pada kilat sorotmu


Bogor, 1 November 2012

Puisi



Cinta adalah puisi
Tiap fiksi adalah puisi

Puisi tersisih
Oleh keserakahan dunia
Yang lupa dengan kematian

Penyair terbelenggu karena uang
Yang memisahkannya dengan larik

Puisi adalah awal penulis
Jangan kau kurung dia dalam penjara
Sampah kata

Tak ada satupun kata
Tanpa makna

Puisi tuk temukan jati diri
Cabang yang tersirat menemukan bahasa mati
Dan memahami tiap makhluk
  
Udarapun dapat dilihat
Dan dipegang

Dengan dia
Puisi takkan pernah
Mati


Bogor, 2012

Senin, 26 Agustus 2013

Gubuk Rindu



Melatiku pupus bersama buah kenang yang berjatuhan
Kilas angin sunyi membawa sang surya lebih benderang
Di pagi buta yang kacau oleh rindu

Ingatan berserakan disapu oleh waktu
Menyisakan ilalang hitam dengan sendu

Wajah gubuk terbayang-bayang
Meninggalkan jejak-jejak cinta
Yang bersemayam dalam kematian yang bohong
Mengisyaratkan langit menjadi abu
Dengan selimut tanah yang menyeruai dalam ruang

Gubuk rindu hadirkan aku
Yang meniti air menjadi batu
Memuaskan kuning yang hijau bersisik emas
Menidurkanku dalam rasa manis melebihi madu: Keluarga



Cigondang, 27 Oktober 2012

Minggu, 25 Agustus 2013

Cinta pada Cinta



Cinta mengawali kehidupan
Tanpa debu dan kerikil buatan
Menemani hidup dengan rasa

Cinta bukan rupa
Yang dapat dipandang dengan mata
Berbahasa dan dilupa

Cinta bukanlah sepasang jiwa, dia milik semua
Bagai muatan yang saling tarik-menarik
Mengisi ruang diantara dimensi

Cinta bukan hanya sebuah larik
Yang dapat kau kecup
Dan kau buang begitu saja

Cinta adalah angin segar yang kau hisap
Membuang semua lara
Dalam dunia tanpa hati



Cinta adalah selimut rindu
Yang menyelimutimu
Dalam resahnya malam

Cinta pada cinta
Lebih baik daripada
hidup

Mencinta cinta
Membuatmu menghilangkan keraguan
Yang sering menempel dalam lerung jantung

Berteman cinta
Dapat menutup napas
Dan mengindahkan senyum

Cinta abadi telah ada
Sejak tanah kering
Sampai menumbuhkan hijau



Cinta selalu memperhatikanmu
Jangan pernah kau lupa
Akan cintanya yang tak pernah binasa


Bogor, 23 Oktober 2012

Senin, 12 Agustus 2013

Cintaku


Cintaku melankolis
Menyembunyikan bayangan dari cahaya
Tak sekuat cinta romeo dan juliet

Cintaku melankolis
seperti kaki yang kehilangan sepatunya
Tak selengkap cinta sepasang penguin

Cintaku melankolis
Menunggu hujan yang tak kunjung berhenti
Tak seberuntung Cinderella menunggu pangerannya

Cintaku melankolis
seperti bangunan tua yang menahan atapnya
Rapuh dan sia-sia

Entah, 8 Maret 2013

Jumat, 09 Agustus 2013

aku berhenti selamanya

aku berhenti selamanya
dari dunia yang memuja dunia
untuk menghadirkan kembali mimpi diatas mimpi
karena aku sadar, aku butuh ruh yang murni
yang dapat aku minum di pagi hari
kala mata membuka tuk mencari cahaya

aku berhenti selamanya
dari hidup yang sering merenggut nuraniku
untuk mencoba lagi tetesan hujan yang mengguyurku
karena aku tahu, ada embun di dalam hati
yang dapat menyembuhkan luka
saat jemari ini menyentuh lembut debu-debu di jalanan

aku berhenti selamanya
dari mengecap rasa yang sesaat
untuk berdiri menjunjung tinggi harga diri
karena itu yang akan menguatkan semua gerakku
dalam tidur yang dapat menipuku

aku berhenti selamanya
dari memeluk api-api yang bergejolak
untuk menghembuskan napas keabadian
karena aku yakin, ada pelangi dalam awan yang lebat
di kedalaman ragaku yang beraroma tanah

Minggu, 04 Agustus 2013

Ijinkan aku mati


ada yang tersakiti diam-diam
dalam belukar merajam
mencerna kata mati


 ijinkan aku mati, tuk memuaskan dunia
yang serba gelap, serba hitam
ditangan para orang-orang yang beruban

ijinkan aku mati diam-diam
tuk mengecap lara
menyeka keindahan dalam tubuh
yang dimakan cacing pipih dan panjang

ijinkan aku mati di kegelapan malam
agar samar, agar tak tampak
baunya oleh binatang-binatang
yang mengerti perasaan

ijinkan aku mati di kedalaman lautan
bersama ombak, bersama deruan jaman
yang meradang, yang menikam
karang-karang yang penuh kesabaran

ijinkan, ijinkan aku mati dekat pantai
dekat dedaunan, dibawah naungan pohon
dekat persinggahan, dekat kuburan

ijinkan aku mati untuk mengakhiri
hidup yang seperti alat ini