Cari Blog Ini

Jumat, 20 September 2013

malam-malam ngelantur

penat, pekat, merapat
ini kepala isinya gelap

hitam, kelam, semakin dalam
banyak setan di pelataran

hilang, malang, tambah gampang
terus mengerang

sendu, kelu, menyatu
tambah pilu

tidur, kendur, terlanjur
malam-malam ngelantur


Kamis, 19 September 2013

sedang pertengahan bulan

diatas ada rembulan, terang
sedang pertengahan bulan
purnama, bulan padang

bintang-bintang, kerlap-kerlip malam-malam
malam kelam jadi teman
pualam, alam kan menikam

lautan, merendam suram
seribu jaman merajam
angin yang bersemayam

kepada jin dan setan
yang hendak pulang ke pelabuhan
cepat-cepat enyah bersama gelombang

Rabu, 18 September 2013

bujang

bujang, maafkan temanmu yang tak peduli ini
membiarkanmu bekenalan dengan kegelapan
maaf bujang, aku tak tahu
aku pikir engkau ada teman di rumah
aku pikir kau bahagia disana
aku pikir kau tidak sendirian
aku pikir kau makan dengan kenyang
aku pikir kau tidur pulas

bujang, ikutlah denganku ke kota seberang
agar kau tak sendirian
makan dengan tenang, tidur dengan nyaman

bujang, sungguh, aku ingin membantumu
membantumu melupakan semua kenangan yang kelam

mungkin hanya doa disetiap sujudku
untuk mengantarkanmu ke keabadian
bujang, maafkan temanmu yang tak karuan

Selasa, 17 September 2013

di rumah ilalang berpulang

membangunkannya untuk sekolah, seperti meminum air kebahagiaan
menyuruhnya untuk segera mandi, seperti menuai rindu
menyiapkannya sarapan, seperti di hujani rahmat
menunggunya pulang sekolah, seperti memeluk mimpi-mimpi
begitu setiap hari, setiap menghirup napas
ada kerinduan yang muncul pada dirinya

aku ingin terus disini
di rumah ilalang berpulang

walaupun tak ada harta dan tahta
aku lebih suka disini
berlama-lama menatap cahaya ilahi
berenang dalam kenikmatan hidup
yang tak sempurna dan sering susah
tak apa, karena aku suka
karena kesusahan adalah sunahnya

bersyukurlah
tersenyumlah pada kegagalan
jabat kesengsaraan, sehingga engkau kuat

Sabtu, 14 September 2013

Annelies

pekat, penat, jadi teman
bising, asing, mengusik
hanya terdiam, diatas kursi roda

terang, benderang, menghilang
mimpi, pelangi, berlari
menjauhi sinai dalam kesendirian

annelies, annelies
bermurung durja, buruk rupa
sedang merajut perasaan

menunggu yang tak pasti
kadang mau dan tak mau
kadang letih dan tak letih

hanya menangis dalam hujan
bermunajat pada takdir
semoga rindu berupa

karena hanya hati yang tahu
untuk melangkah mendekati
hidup yang seperti mentari dan padi

Kepada Nyai Ontosoroh

aku namai dia bunga pribumi yang tumbuh di tanah eropa
Nyai Ontosoroh, seperti jampi-jampi
yang keluar dari mulut dukun-dukun pemuja kekuasaan

pelosok mana yang tak kenal gundik pintar ini
bangsawan pun takluk dibawah kaki lumpurnya

hanya dengan ketegasan dan keberanian
yang dia temukan dalam dinginnya penjara waktu
yang merenggut apa yang dulu pernah dipunyanya

ucapnya hanya tentang masa lalu
yang ia ganti dengan masa depan

Selasa, 03 September 2013

Insan Kamil

Insan kamil ini rusak oleh kebudayaan dan lingkungan
Membuat kepalanya berasap mengeluarkan cahaya-cahaya yang dulu disaring
Untuk melengkapi bagian yang kacau oleh waktu

Raganya kering meronta-ronta
Sedang matanya sayu seperti hidupnya yang jemu dan layu
Padahal sudah disiram beberapa kali dengan air suci
Tetapi tak kunjung berbuah, bunganya saja enggan untuk mekar

Ada lagi satu-satunya yang mencirikan paras cahayanya
Ketika dia berjalan seolah dunia memainkan iramanya
dengan suara yang keluar dari telapak kakinya
bergemericik, sama seperti bunyi gerimis

hidupnya yang sempit meluaskan pandangannya tentang laut
berwarna biru, kadang hijau dan tenang
seperti rambutnya yang sama-sama bergelombang
jika diterpa angin, dan wajahnya yang terlihat seperti danau
semakin membuat kelam siapapun yang memandang

insan kamil ini katanya ingin menjadi salik
biar ruhnya putih kalau mati nanti
walaupun nanti tangan dan kakinya buntung
dia tetap bersikukuh supaya tanah dapat menerimanya
menjadi makanan cacing biar nyaman di pembaringan

Senin, 02 September 2013

Dunia hitam yang aku genggam


Biar langit kelabu membawa angin hitam
Aku tetap tak takut menghadapi kenyataan
Akan kuhantam kehidupan itu dengan kepalan yang keras

Biar mataku rabun samar melihatmu
Akan kupastikan aku dihadapanmu dengan ketajaman ini
Yang mampu masuk ke dalam tubuhmu sampai aku bekukan
Semua darahmu menjadi biru yang mati

Aku adalah hitam dalam warna yang menenggelamkanmu
Sudahlah, sudah teman
Aku akan hidup dengan langkahku yang goyah

Meski kau membantuku, aku tak mau
Aku akan hidup dengan jalan yang aku suka
Bersama pasir hitam yang aku makan sejak dunia
Memenjarakanku

Masa bodoh dengan kalian yang sering meracuniku
Aku akan tetap memegang sobekan kertas
Membawanya pada sisa-sisa mimpi yang tertahan oleh waktu

Aku akan membunuh hidupku dengan pisau
Yang selalu tertanam dalam jantungku
Aku robek-robek dia sampai tak tersisa
Sampai nanti, sampai kau tahu apa yang aku mau


Mata Rabun, 17 desember 2012

Pretty Woman

Lagu ini selalu mengikuti kemana aku pergi
Sama seperti bayangmu yang menjadi teman dalam kesunyianku
Membuatku jatuh setiap hari, setiap pagi

Untuk membuatmu selalu berada disisiku dengan kertas ini
Cukup bagiku memejamkan mata untuk melihat wajahmu
Dan suaramu yang aku simpan, serta senyum indahmu
Melukiskan mata hitam yang membuat hatiku tertawa

Duhai jiwa, aku akan memelukmu bersama tahun-tahun
Yang aku lewati untuk mendapatkan sapaan halus darimu
akan aku temui kau didepan mataku yang binar

Seperti hari ini, kau menenggelamkanku dalam getaran ini
Membuat jantungku berpacu seraya ingin melompat
Dari tubuh tak bertulang bersama hati ini
Hati yang diciptakan satu untuk menjadi sepasang


Jatuh, 3 Januari 2013

Kosong Rasa Polong

Laron-laron dari gelap kosong
Menutupi tubuh cahaya yang gulita
Bersayap tanah retak-retak

Laron-laron yang rapuh
Mengembangkan patah-patah kertas
Menyilaukan setiap mata yang buta

Laron-laron ditepi pantai yang hitam
Menyeruak mengikiskan ilalang
Berkincir air memakai jubah

Laron-laron yang berkeluh kesah
Tak tahu terbang ke tanah
Hanya tidur yang menemaninya dalam rasa polong


Dalam Kosong, 3 Desember 2012

Sekapur Papan


Kata itu membawaku dalam kacang polong
Bersenyum ceria menata kapur
Dalam dongengan kaum remaja

Kata itu membunuhku
Menyembunyikan jantung dengan nadinya
Yang merah memanas
Bagai gelembung yang meletus oleh busa

Kata itu menahanku untuk berpijak
Menemui serpihan lampu yang terbakar
Membawakan bara yang dingin

Yang aku kurung dalam penjara darah
Yang mengalir menghantuiku
Melalui waktu yang berdentang
Seperti gemericik air yang terbawa oleh lautan

Bingung, 30 November 2012

Lapar

Hujan deras kini telah memenuhi ruangku
Menyisakanku dengan buku ini
Yang meramai dalam susut bangku

Membanjiri setiap tanah dengan jeritannya
Dalam kehampaan yang lapar

Setiap suara kudengar sayup
Dengan hati ini
Yang sedari tadi menanyakan kau

Dalam peluhku yang nanar
Menciptakan tatapan kosong yang merindu

Entah apa yang sedang aku pikirkan
Yang aku tahu harus berlari jauh
Dari hadapanmu yang bohong

Karena aku mengerti engkau tak dicipta
Untukku yang biasa ini

AKu hanya bisa menikmati bayangmu
Dalam sudut kaca ini
Yang retak oleh hempasan cinta

Ruhmu yang kuminum
Mungkin akan samar oleh waktu


Dalam banjir, 17 November 2012

Gelap Gulita


Gulita menertawakan setiap cahaya yang pupus
Bersama sikap yang ditelan kegelapan
Menghancurkan setiap hati yang merintih

Membanjiri baju yang kering oleh khianat
Dengan lapar yang meradang
Dihiraukan kasih yang meregang

Seakan kamil jauhi sinau
Menderu bak binatang kesurupan
Tak tahu yang mana hati, yang mana jantung

Meninggalkan kau yang setia
Ditengah-tengah tebing dan jurang
Yang siap menjadi teman dalam kosong

Dalam gelap, 25 November 2012

Tikus Bercondong


Percuma kerajaan seluas langit
Jika jiwa mabuk menirukan binatang

Bumi mana yang hendak kau reguk
Jika hanya bejat yang kau tuntun
Untuk temukan lubang dunia

Lebih baik menjadi sampah
Daripada kau

Yang selalu memakai topeng
Dengan parfum yang busuk
Melebihi kotoran

Kuakui  kau pintar
Sampai pintar bawamu pada lacur

Buatmu berlari pada batas diri
Sampai tergelincir
Tak bisa membedakan air dan arak


Mungkin daku yang bodoh
Atau dirimu yang anggap jahil bak kemuliaan

Mungkin kau tak pernah mendengar
Yang mana darah, yang mana nanah
Dari kasihmu

Aku bangga pada apel busuk
Yang dapat membakar kemisikinan

Sedangkan kau
Tak bisa dimakan oleh siapapun
Tak bermanfaat

Pohon jatuh pada condongnya
Untuk meraih pelangi

Sudah benarkah dikau
Bertumpu
Wahai insan kamil yang melebihi batas


 Bogor, 10 November 2012

Bunga Arofah


Harummu katsuri
Berbuah sabar
Tak bimbang

Penambah berat
Simpanan dunia
Dengan mata berpura-pura

Melihat dunia tidur
Bertangkai emas
Berduri sutra

Tak membahayakan apapun
Sampai nanti
Sampai nyanyi rindu

Berkumandang dalam
Malam yang hitam
Bersesak tangis

Mengiringi langkah
Dalam setiap jiwa
Yang kembali dari tanahmu

Wahai bunga arofah
Yang tak pasti memandang
Dalam hidupku yang singkat


Bogor, 2012

Batas Sabar


Ruang dada mengembangkan panas
Membuat napas berlarian meninggalkan sadar
Melukis mata merah yang mendidih
Oleh nafsu jiwa yang terpenjara
Dari aura kalbu

Engkau menyentuhku dengan sabar yang tiada tara
Sampai nanti, sampai ajal menjadi teman
Didalam waktuku yang sehari

Wahai mimpi yang terbelenggu oleh waktu
Ijinkanlah daku untuk memelukmu
Mengembangkan senyum merah
Merekah bagai mawar dipagi hari
Yang kikis oleh hujan sendu

Aku tak kuasa menahan ini
Menahan gejolak batin dengan duri
Yang kupegang erat sampai berdarah nanah

Bogor, 31 Oktober 2012

Kangen Lagi


Bayangan mengajakku berkelana
Menutup mata dengan memori
Menggambarkan hijau yang indah
Seakan menenangkanku dalam setiap napas

Pesona wajahmu yang beku
Mampu menghentikan waktu
Menghidupkan aku yang mati

Kau indah
Dapat mengembangkan senyumku
Aku ingin menyelimutimu
Dengan udara rindu

Yang kini mengikutiku
Sejak surya ada untuk temani
Kangen ini


Bogor, 24 Oktober 2012

Minggu, 01 September 2013

Karang Hawu


Aku menaiki puncak sampai bosan keluar dari karang
Menerima setiap wajah yang mau dan tak mau menghindar
Membuatku mabuk-mabukkan di pelabuhan
Ratu yang besar dan penuh misteri
Terlukis didalam jiwa ombak yang menghempaskan
Setiap kayu-kayu yang mengambang dan
Menariknya sampai karang-karang menangkapmu

Amis kehidupan menemani baju ini yang kotor
Hijau dan kelam yang tak pernah tenang
Bersama deruan buih yang sengaja meraung
Memimpikan sang pangeran datang dengan baju koyaknya
Memberi isyarat tuk melepas tubuh dari lautan
Yang siap membawamu keatas sini
Dengan aku yang berpasir dan penuh lumut


Ratu, 31 Desember 2012

Pemuda


Hidupmu habis menunggu waktu yang tak pernah mati
Tenagamu terkuras oleh tuntutan zaman
Pemuda, engkau terombang-ambing oleh lautan cinta dan nista
dan pemuda, jangan sia-siakan hidupmu dengan dunia
yang mampu menjilat habis semua harga dirimu sebagai manusia
Wahai pemuda, junjunglah tinggi tombakmu yang kau pegang sampai mati
Sampai darah tak bisa lagi membanggakan bau amisnya
serta, sampai jantung enggan berbunyi
dan wahai pemuda, siapkanlah dirimu dengan iman dan takwa
agar kau bisa memejamkan mata dengan tenang

tanpa beban, tanpa kesakitan, penuh keikhlasan