Cari Blog Ini
Senin, 30 September 2013
Jumat, 20 September 2013
malam-malam ngelantur
penat, pekat, merapat
ini kepala isinya gelap
hitam, kelam, semakin dalam
banyak setan di pelataran
hilang, malang, tambah gampang
terus mengerang
sendu, kelu, menyatu
tambah pilu
tidur, kendur, terlanjur
malam-malam ngelantur
ini kepala isinya gelap
hitam, kelam, semakin dalam
banyak setan di pelataran
hilang, malang, tambah gampang
terus mengerang
sendu, kelu, menyatu
tambah pilu
tidur, kendur, terlanjur
malam-malam ngelantur
Kamis, 19 September 2013
sedang pertengahan bulan
diatas ada rembulan, terang
sedang pertengahan bulan
purnama, bulan padang
bintang-bintang, kerlap-kerlip malam-malam
malam kelam jadi teman
pualam, alam kan menikam
lautan, merendam suram
seribu jaman merajam
angin yang bersemayam
kepada jin dan setan
yang hendak pulang ke pelabuhan
cepat-cepat enyah bersama gelombang
sedang pertengahan bulan
purnama, bulan padang
bintang-bintang, kerlap-kerlip malam-malam
malam kelam jadi teman
pualam, alam kan menikam
lautan, merendam suram
seribu jaman merajam
angin yang bersemayam
kepada jin dan setan
yang hendak pulang ke pelabuhan
cepat-cepat enyah bersama gelombang
Rabu, 18 September 2013
bujang
bujang, maafkan temanmu yang tak peduli ini
membiarkanmu bekenalan dengan kegelapan
maaf bujang, aku tak tahu
aku pikir engkau ada teman di rumah
aku pikir kau bahagia disana
aku pikir kau tidak sendirian
aku pikir kau makan dengan kenyang
aku pikir kau tidur pulas
bujang, ikutlah denganku ke kota seberang
agar kau tak sendirian
makan dengan tenang, tidur dengan nyaman
bujang, sungguh, aku ingin membantumu
membantumu melupakan semua kenangan yang kelam
mungkin hanya doa disetiap sujudku
untuk mengantarkanmu ke keabadian
bujang, maafkan temanmu yang tak karuan
membiarkanmu bekenalan dengan kegelapan
maaf bujang, aku tak tahu
aku pikir engkau ada teman di rumah
aku pikir kau bahagia disana
aku pikir kau tidak sendirian
aku pikir kau makan dengan kenyang
aku pikir kau tidur pulas
bujang, ikutlah denganku ke kota seberang
agar kau tak sendirian
makan dengan tenang, tidur dengan nyaman
bujang, sungguh, aku ingin membantumu
membantumu melupakan semua kenangan yang kelam
mungkin hanya doa disetiap sujudku
untuk mengantarkanmu ke keabadian
bujang, maafkan temanmu yang tak karuan
Selasa, 17 September 2013
di rumah ilalang berpulang
membangunkannya untuk sekolah, seperti meminum air kebahagiaan
menyuruhnya untuk segera mandi, seperti menuai rindu
menyiapkannya sarapan, seperti di hujani rahmat
menunggunya pulang sekolah, seperti memeluk mimpi-mimpi
begitu setiap hari, setiap menghirup napas
ada kerinduan yang muncul pada dirinya
aku ingin terus disini
di rumah ilalang berpulang
walaupun tak ada harta dan tahta
aku lebih suka disini
berlama-lama menatap cahaya ilahi
berenang dalam kenikmatan hidup
yang tak sempurna dan sering susah
tak apa, karena aku suka
karena kesusahan adalah sunahnya
bersyukurlah
tersenyumlah pada kegagalan
jabat kesengsaraan, sehingga engkau kuat
menyuruhnya untuk segera mandi, seperti menuai rindu
menyiapkannya sarapan, seperti di hujani rahmat
menunggunya pulang sekolah, seperti memeluk mimpi-mimpi
begitu setiap hari, setiap menghirup napas
ada kerinduan yang muncul pada dirinya
aku ingin terus disini
di rumah ilalang berpulang
walaupun tak ada harta dan tahta
aku lebih suka disini
berlama-lama menatap cahaya ilahi
berenang dalam kenikmatan hidup
yang tak sempurna dan sering susah
tak apa, karena aku suka
karena kesusahan adalah sunahnya
bersyukurlah
tersenyumlah pada kegagalan
jabat kesengsaraan, sehingga engkau kuat
Sabtu, 14 September 2013
Annelies
pekat, penat, jadi teman
bising, asing, mengusik
hanya terdiam, diatas kursi roda
terang, benderang, menghilang
mimpi, pelangi, berlari
menjauhi sinai dalam kesendirian
annelies, annelies
bermurung durja, buruk rupa
sedang merajut perasaan
menunggu yang tak pasti
kadang mau dan tak mau
kadang letih dan tak letih
hanya menangis dalam hujan
bermunajat pada takdir
semoga rindu berupa
karena hanya hati yang tahu
untuk melangkah mendekati
hidup yang seperti mentari dan padi
bising, asing, mengusik
hanya terdiam, diatas kursi roda
terang, benderang, menghilang
mimpi, pelangi, berlari
menjauhi sinai dalam kesendirian
annelies, annelies
bermurung durja, buruk rupa
sedang merajut perasaan
menunggu yang tak pasti
kadang mau dan tak mau
kadang letih dan tak letih
hanya menangis dalam hujan
bermunajat pada takdir
semoga rindu berupa
karena hanya hati yang tahu
untuk melangkah mendekati
hidup yang seperti mentari dan padi
Kepada Nyai Ontosoroh
aku namai dia bunga pribumi yang tumbuh di tanah eropa
Nyai Ontosoroh, seperti jampi-jampi
yang keluar dari mulut dukun-dukun pemuja kekuasaan
pelosok mana yang tak kenal gundik pintar ini
bangsawan pun takluk dibawah kaki lumpurnya
hanya dengan ketegasan dan keberanian
yang dia temukan dalam dinginnya penjara waktu
yang merenggut apa yang dulu pernah dipunyanya
ucapnya hanya tentang masa lalu
yang ia ganti dengan masa depan
Nyai Ontosoroh, seperti jampi-jampi
yang keluar dari mulut dukun-dukun pemuja kekuasaan
pelosok mana yang tak kenal gundik pintar ini
bangsawan pun takluk dibawah kaki lumpurnya
hanya dengan ketegasan dan keberanian
yang dia temukan dalam dinginnya penjara waktu
yang merenggut apa yang dulu pernah dipunyanya
ucapnya hanya tentang masa lalu
yang ia ganti dengan masa depan
Selasa, 03 September 2013
Insan Kamil
Insan kamil ini rusak oleh kebudayaan dan lingkungan
Membuat kepalanya berasap mengeluarkan cahaya-cahaya yang
dulu disaring
Untuk melengkapi bagian yang kacau oleh waktu
Raganya kering meronta-ronta
Sedang matanya sayu seperti hidupnya yang jemu dan layu
Padahal sudah disiram beberapa kali dengan air suci
Tetapi tak kunjung berbuah, bunganya saja enggan untuk mekar
Ada lagi satu-satunya yang mencirikan paras cahayanya
Ketika dia
berjalan seolah dunia memainkan iramanya
dengan suara
yang keluar dari telapak kakinya
bergemericik,
sama seperti bunyi gerimis
hidupnya yang
sempit meluaskan pandangannya tentang laut
berwarna biru,
kadang hijau dan tenang
seperti
rambutnya yang sama-sama bergelombang
jika diterpa
angin, dan wajahnya yang terlihat seperti danau
semakin
membuat kelam siapapun yang memandang
insan kamil
ini katanya ingin menjadi salik
biar ruhnya
putih kalau mati nanti
walaupun nanti
tangan dan kakinya buntung
dia tetap
bersikukuh supaya tanah dapat menerimanya
menjadi
makanan cacing biar nyaman di pembaringan
Senin, 02 September 2013
Dunia hitam yang aku genggam
Biar langit
kelabu membawa angin hitam
Aku tetap tak
takut menghadapi kenyataan
Akan kuhantam
kehidupan itu dengan kepalan yang keras
Biar mataku
rabun samar melihatmu
Akan
kupastikan aku dihadapanmu dengan ketajaman ini
Yang mampu
masuk ke dalam tubuhmu sampai aku bekukan
Semua darahmu
menjadi biru yang mati
Aku adalah
hitam dalam warna yang menenggelamkanmu
Sudahlah, sudah
teman
Aku akan
hidup dengan langkahku yang goyah
Meski kau
membantuku, aku tak mau
Aku akan
hidup dengan jalan yang aku suka
Bersama pasir
hitam yang aku makan sejak dunia
Memenjarakanku
Masa bodoh
dengan kalian yang sering meracuniku
Aku akan
tetap memegang sobekan kertas
Membawanya
pada sisa-sisa mimpi yang tertahan oleh waktu
Aku akan
membunuh hidupku dengan pisau
Yang selalu
tertanam dalam jantungku
Aku robek-robek
dia sampai tak tersisa
Sampai nanti,
sampai kau tahu apa yang aku mau
Mata Rabun, 17 desember 2012
Pretty Woman
Lagu ini
selalu mengikuti kemana aku pergi
Sama seperti
bayangmu yang menjadi teman dalam kesunyianku
Membuatku
jatuh setiap hari, setiap pagi
Untuk
membuatmu selalu berada disisiku dengan kertas ini
Cukup bagiku
memejamkan mata untuk melihat wajahmu
Dan suaramu
yang aku simpan, serta senyum indahmu
Melukiskan
mata hitam yang membuat hatiku tertawa
Duhai jiwa,
aku akan memelukmu bersama tahun-tahun
Yang aku lewati
untuk mendapatkan sapaan halus darimu
akan aku temui kau didepan mataku yang binar
Seperti hari
ini, kau menenggelamkanku dalam getaran ini
Membuat
jantungku berpacu seraya ingin melompat
Dari tubuh
tak bertulang bersama hati ini
Hati yang diciptakan
satu untuk menjadi sepasang
Jatuh, 3 Januari 2013
Kosong Rasa Polong
Laron-laron
dari gelap kosong
Menutupi
tubuh cahaya yang gulita
Bersayap
tanah retak-retak
Laron-laron
yang rapuh
Mengembangkan
patah-patah kertas
Menyilaukan
setiap mata yang buta
Laron-laron
ditepi pantai yang hitam
Menyeruak
mengikiskan ilalang
Berkincir air
memakai jubah
Laron-laron
yang berkeluh kesah
Tak tahu
terbang ke tanah
Hanya tidur
yang menemaninya dalam rasa polong
Dalam Kosong, 3 Desember 2012
Sekapur Papan
Kata itu
membawaku dalam kacang polong
Bersenyum
ceria menata kapur
Dalam
dongengan kaum remaja
Kata itu
membunuhku
Menyembunyikan
jantung dengan nadinya
Yang merah
memanas
Bagai
gelembung yang meletus oleh busa
Kata itu
menahanku untuk berpijak
Menemui
serpihan lampu yang terbakar
Membawakan
bara yang dingin
Yang aku kurung
dalam penjara darah
Yang mengalir
menghantuiku
Melalui waktu
yang berdentang
Seperti
gemericik air yang terbawa oleh lautan
Bingung, 30 November 2012
Lapar
Hujan deras
kini telah memenuhi ruangku
Menyisakanku
dengan buku ini
Yang meramai
dalam susut bangku
Membanjiri
setiap tanah dengan jeritannya
Dalam
kehampaan yang lapar
Setiap suara
kudengar sayup
Dengan hati
ini
Yang sedari
tadi menanyakan kau
Dalam peluhku
yang nanar
Menciptakan
tatapan kosong yang merindu
Entah apa
yang sedang aku pikirkan
Yang aku tahu
harus berlari jauh
Dari hadapanmu
yang bohong
Karena aku mengerti
engkau tak dicipta
Untukku yang
biasa ini
AKu hanya
bisa menikmati bayangmu
Dalam sudut
kaca ini
Yang retak
oleh hempasan cinta
Ruhmu yang
kuminum
Mungkin akan
samar oleh waktu
Dalam banjir, 17 November 2012
Gelap Gulita
Gulita
menertawakan setiap cahaya yang pupus
Bersama sikap
yang ditelan kegelapan
Menghancurkan
setiap hati yang merintih
Membanjiri
baju yang kering oleh khianat
Dengan lapar
yang meradang
Dihiraukan
kasih yang meregang
Seakan kamil
jauhi sinau
Menderu bak
binatang kesurupan
Tak tahu yang
mana hati, yang mana jantung
Meninggalkan kau
yang setia
Ditengah-tengah
tebing dan jurang
Yang siap
menjadi teman dalam kosong
Tikus Bercondong
Percuma kerajaan seluas langit
Jika jiwa mabuk menirukan binatang
Bumi mana yang hendak kau reguk
Jika hanya bejat yang kau tuntun
Untuk temukan lubang dunia
Lebih baik menjadi sampah
Daripada kau
Yang selalu memakai topeng
Dengan parfum yang busuk
Melebihi kotoran
Kuakui
kau pintar
Sampai pintar bawamu pada lacur
Buatmu berlari pada batas diri
Sampai tergelincir
Tak bisa membedakan air dan arak
Mungkin daku yang bodoh
Atau dirimu yang anggap jahil bak
kemuliaan
Mungkin kau tak pernah mendengar
Yang mana darah, yang mana nanah
Dari kasihmu
Aku bangga pada apel busuk
Yang dapat membakar kemisikinan
Sedangkan kau
Tak bisa dimakan oleh siapapun
Tak bermanfaat
Pohon jatuh pada condongnya
Untuk meraih pelangi
Sudah benarkah dikau
Bertumpu
Wahai insan kamil yang melebihi batas
Bogor,
10 November 2012
Bunga Arofah
Harummu katsuri
Berbuah sabar
Tak bimbang
Penambah berat
Simpanan dunia
Dengan mata berpura-pura
Melihat dunia tidur
Bertangkai emas
Berduri sutra
Tak membahayakan apapun
Sampai nanti
Sampai nyanyi rindu
Berkumandang dalam
Malam yang hitam
Bersesak tangis
Mengiringi langkah
Dalam setiap jiwa
Yang kembali dari tanahmu
Wahai bunga arofah
Yang tak pasti memandang
Dalam hidupku yang
singkat
Bogor, 2012
Batas Sabar
Ruang dada mengembangkan
panas
Membuat napas berlarian
meninggalkan sadar
Melukis mata merah yang
mendidih
Oleh nafsu jiwa yang
terpenjara
Dari aura kalbu
Engkau menyentuhku dengan
sabar yang tiada tara
Sampai nanti, sampai ajal
menjadi teman
Didalam waktuku yang
sehari
Wahai mimpi yang
terbelenggu oleh waktu
Ijinkanlah daku untuk
memelukmu
Mengembangkan senyum
merah
Merekah bagai mawar
dipagi hari
Yang kikis oleh hujan
sendu
Aku tak kuasa menahan ini
Menahan gejolak batin
dengan duri
Yang kupegang erat sampai
berdarah nanah
Kangen Lagi
Bayangan mengajakku
berkelana
Menutup mata dengan
memori
Menggambarkan hijau yang
indah
Seakan menenangkanku
dalam setiap napas
Pesona wajahmu yang beku
Mampu menghentikan waktu
Menghidupkan aku yang
mati
Kau indah
Dapat mengembangkan
senyumku
Aku ingin menyelimutimu
Dengan udara rindu
Yang kini mengikutiku
Sejak surya ada untuk
temani
Kangen ini
Bogor, 24 Oktober 2012
Minggu, 01 September 2013
Karang Hawu
Aku menaiki puncak
sampai bosan keluar dari karang
Menerima
setiap wajah yang mau dan tak mau menghindar
Membuatku
mabuk-mabukkan di pelabuhan
Ratu yang
besar dan penuh misteri
Terlukis
didalam jiwa ombak yang menghempaskan
Setiap
kayu-kayu yang mengambang dan
Menariknya
sampai karang-karang menangkapmu
Amis
kehidupan menemani baju ini yang kotor
Hijau dan
kelam yang tak pernah tenang
Bersama
deruan buih yang sengaja meraung
Memimpikan
sang pangeran datang dengan baju koyaknya
Memberi
isyarat tuk melepas tubuh dari lautan
Yang siap
membawamu keatas sini
Dengan aku
yang berpasir dan penuh lumut
Ratu, 31 Desember 2012
Pemuda
Hidupmu habis menunggu waktu yang tak pernah mati
Tenagamu terkuras oleh tuntutan zaman
Pemuda, engkau terombang-ambing oleh lautan cinta
dan nista
dan pemuda, jangan sia-siakan hidupmu dengan dunia
yang mampu menjilat habis semua harga dirimu sebagai
manusia
Wahai pemuda, junjunglah tinggi tombakmu yang kau
pegang sampai mati
Sampai darah tak bisa lagi membanggakan bau amisnya
serta, sampai jantung enggan berbunyi
dan wahai pemuda, siapkanlah dirimu dengan iman dan
takwa
agar kau bisa memejamkan mata dengan tenang
tanpa beban, tanpa kesakitan, penuh keikhlasan
Langganan:
Postingan (Atom)









