Insan kamil ini rusak oleh kebudayaan dan lingkungan
Membuat kepalanya berasap mengeluarkan cahaya-cahaya yang
dulu disaring
Untuk melengkapi bagian yang kacau oleh waktu
Raganya kering meronta-ronta
Sedang matanya sayu seperti hidupnya yang jemu dan layu
Padahal sudah disiram beberapa kali dengan air suci
Tetapi tak kunjung berbuah, bunganya saja enggan untuk mekar
Ada lagi satu-satunya yang mencirikan paras cahayanya
Ketika dia
berjalan seolah dunia memainkan iramanya
dengan suara
yang keluar dari telapak kakinya
bergemericik,
sama seperti bunyi gerimis
hidupnya yang
sempit meluaskan pandangannya tentang laut
berwarna biru,
kadang hijau dan tenang
seperti
rambutnya yang sama-sama bergelombang
jika diterpa
angin, dan wajahnya yang terlihat seperti danau
semakin
membuat kelam siapapun yang memandang
insan kamil
ini katanya ingin menjadi salik
biar ruhnya
putih kalau mati nanti
walaupun nanti
tangan dan kakinya buntung
dia tetap
bersikukuh supaya tanah dapat menerimanya
menjadi
makanan cacing biar nyaman di pembaringan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar