Cari Blog Ini

Selasa, 19 November 2013

Rindu ini tak bertitik

Rindu ini tak bertitik, tak tahu aku mana ujungnya, awalnyapun  aku lupa

Biarlah, biarkan gejolak cinta ini membesar, membakar habis jarak antara perasaan dan pikiran

Setiap hari, setiap napasku beradu dengan udara, kurasakan sesak didada, memukul-mukul jantungku

Aku tak tahu lagi harus mengubur kesepian ini di tanah yang mana

Yang kutahu, aku sedang ingin bertemu denganmu, adik-adikku

Umi

mi.... sudah tiga tahun
semenjak daku bilang padamu
tuk tidak akan pernah pulang selama tiga tahun
namun itu semua tak kupenuhi
karena engkau tak mengijinkanku
sampai-sampai, engkau sampai hati
meninggalkan daku yang tak bisa apa-apa ini
tanpamu, umi

mi.... banyak sekali yang ingin kuceritakan kepadamu
seperti dulu, engkau mendengarkan semua ceritaku
tentang daku, tentang kehidupan di sekitarku
cuma dikau mi yang mau mendengarkanku
dan yang dapat kujadikan teman hatiku

mi.... di masa sekarang ini
banyak yang berubah dari diriku
daku bukan lagi seorang berandalan seperti dulu
daku bukan lagi seorang yang berantakan seperti dulu
walaupun ada yang masih belum berubah, keras kepalaku,
keangkuhanku dan tatapan mataku yang tak bisa
menyembunyikan jati dirinya, seorang yang kasar,
pemarah, pendendam, kadang juga seperti binatang,
selalu ingin membunuh semua yang menghalanginya
percayakah engkau padaku, umi

mi.... jikalau air mata ini dapat bersaksi padamu
akan engkau saksikan rindu yang tiada tara
dari anakmu yang kasar ini

aku rindu saat-saat mengantarkan dan menunggumu di pasar,
bercanda denganmu, membuatkan sarapan,
melihat wajahmu, mendengar suaramu,
semuanya tentang dikau mi... selalu rindu
entah... rindu ini sudah berapa lama daku timbun
dalam ruang dada yang sempit ini

mi... masih belum kuwujudkan inginmu
punyai menantu yang sholehah.
bukan daku yang pilah-pilih seorang dara, itu bukan daku yang mau mi.
di masa sekarang ini daku tak pernah laku mi.....

mi…. daku sedang rindu padamu

Senin, 04 November 2013

Aku bisa gila sayang


Ijinkan daku untuk menorehkan perasaan
Diatas air yang keruh
Untuk yang tak pernah kukenal
Walau bayangnya saja tak pernah kulihat
Namun, tolong ijinkan
Cuma satu kali, cuma ini saja

Di belahan dunia sana
Aku percaya pada takdir
Akan ada pada suatu masa
Rusuk kiriku kembali
Dalam pelukan, dalam kehangatan

Aku tak pernah pintar menamai keadaan
Apalagi perasaan, aku tak mau-menau soal begituan
Karena tak bisa diperhitungkan
Namun, kenapa harus begini
Cinta datang bukan pada tempatnya
Aku bisa gila sayang

Gubuk Rindu, September 2013

Tak ada kata dapat aku cerna


Melihat dirimu yang kadang hilang dan tenggelam
Yang kadang timbul dan muncul
Menatap kembali ke dalam matamu
Walau samar, walau bayangnya saja tak tampak

Tak ada kata dapat aku cerna
Selain cinta di penghujung malam
Bersama mimpi tanpa batas

Melukis lagi senyumanmu dalam ingatanku
Yang sedikit rusak
Kadang gelap dan sunyi
Kadang terang dan jelas

Ucap apa yang pantas untuk menimbang suatu keadaan
Jika hati sendiri saja tak dapat diterka
Lalu kemana aku harus mengemis dan mengiba

Kota Hujan, September 2013

Sabtu, 02 November 2013

Jikalau cinta itu hidup





Jikalau ada rindu yang berupa,
bolehkah daku memeluknya walau sesaat
untuk melampiaskan semua kegelisahan, biar tenang.

Jikalau cinta itu hidup,
ijinkan daku tuk mengecupnya walau samar
tak apa, biar segar lagi jiwa ini.

Nun jauh di ujung pandang sana,
mungkin ada keabadian
yang tersirat maknanya.

Wahai engkau yang kucari,
sudikah kiranya menoleh sedikit
pada daku yang tak ada ini.

Ruang Hidup, Oktober 2013

Nak, kami mohon diri



Nak, maafkan ayahanda karena meninggalkanmu
untuk selamanya, dibawah penderitaan waktu
yang sengaja dibuat, untuk menjadikanmu kuat oleh yang maha tahu.

Nak, maafkan ibunda jua karena sebentar lagi pupus
oleh umur yang memakan habis
sisa waktu di penghujung jaman yang anarkis.

Nak, kelak jika engkau mampu berdiri
dengan pijakan yang engkau buat dengan sekuat hati,
jangan engkau luput tuk mengajarkannya pada saudara sendiri.

Cukup sampai disini ayahanda dan ibunda
tuk menghirup udara di waktu senja,
walau kami tahu berat rasanya meninggalkanmu, walau sebentar saja.

Tolong maafkan, maafkan kami jika harus berpulang ke sana,
mungkin karena sang maha pemilik tahu bahwa
pundakmu telah kokoh tuk menopang beban sebesar dunia.

Nak, kami mohon diri,
doa kami akan senantiasa menyelimuti
waktu-waktu yang engkau lewati, doakan kami.


Waktu, Oktober 2013