Ruang dada mengembangkan
panas
Membuat napas berlarian
meninggalkan sadar
Melukis mata merah yang
mendidih
Oleh nafsu jiwa yang
terpenjara
Dari aura kalbu
Engkau menyentuhku dengan
sabar yang tiada tara
Sampai nanti, sampai ajal
menjadi teman
Didalam waktuku yang
sehari
Wahai mimpi yang
terbelenggu oleh waktu
Ijinkanlah daku untuk
memelukmu
Mengembangkan senyum
merah
Merekah bagai mawar
dipagi hari
Yang kikis oleh hujan
sendu
Aku tak kuasa menahan ini
Menahan gejolak batin
dengan duri
Yang kupegang erat sampai
berdarah nanah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar