Percuma kerajaan seluas langit
Jika jiwa mabuk menirukan binatang
Bumi mana yang hendak kau reguk
Jika hanya bejat yang kau tuntun
Untuk temukan lubang dunia
Lebih baik menjadi sampah
Daripada kau
Yang selalu memakai topeng
Dengan parfum yang busuk
Melebihi kotoran
Kuakui
kau pintar
Sampai pintar bawamu pada lacur
Buatmu berlari pada batas diri
Sampai tergelincir
Tak bisa membedakan air dan arak
Mungkin daku yang bodoh
Atau dirimu yang anggap jahil bak
kemuliaan
Mungkin kau tak pernah mendengar
Yang mana darah, yang mana nanah
Dari kasihmu
Aku bangga pada apel busuk
Yang dapat membakar kemisikinan
Sedangkan kau
Tak bisa dimakan oleh siapapun
Tak bermanfaat
Pohon jatuh pada condongnya
Untuk meraih pelangi
Sudah benarkah dikau
Bertumpu
Wahai insan kamil yang melebihi batas
Bogor,
10 November 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar