Cari Blog Ini

Kamis, 27 Desember 2012

Menaklukan Gunung

Gunung yang tinggi dan besar sebagai pengkokoh bumi ternyata ttidak setinggi pandangan mata, bersama teman-teman lainnya kulewati terjalnya bebatuan, air panas yang mendidihkan kaki, jalan yang curam, dan jurang yang siap menerbangkan nyawa, serta dinginnya udara yang menusuk tulang. Namun itu hanyalah sebagian kecil dari petualangan, petualangan yang sebenarnya ada didalam dirimu kawan, petualangan untuk memilih hitam atau putih. Hitam maupun putih mempunyai kelebihan tersendiri, jangan salah untuk memilih.

Jam 3 pagi kususuri cahaya yang redup beberapa jam menemui beberapa teman dengan perbekalan seadanya dalam tasku yang sederhana. Aku telah siap untuk berpetualang menggapai mimpi yang terbengkalai, kali ini telah kuteguhkan hati walau raga ini sendiri. 1 jam telah kutunggu mobil ber-AC gratis tanpa atap berdesak-desakkan menuju jalan setapak setelah kubasuh wajah ini dengan hujan ditempat para pendaki yang memiliki beberapa barang-barang yang hidup yang ingin kumuliki salah satunya.

Sedari tadi angin telah masuk ke dalam pori-pori baju yang kupakai membuat langkah semangat semakin rapuh, namun ini masih awal, pendakian kita masih 1 hari penuh untuk melihat indahnya surga dunia. Diruangan alam ini kupacu napas untuk menaiki tanah yang masih hidup bersama teman yang selalu kutinggal dibelakang sana. Setengah perjalanan telah kusisir bersama bekalku yang setengah habis, ditubuh tanah itu kubasuh kembali wajahku yang lusuh dengan air yang dingin melebihi air kulkas kepunyaanmu dirumah kawan, yang dinginnya mampu masuk sampai tulang walau pada tengah hari. Hari semakin larut membawaku  pada ketinggian air terjun yang mengalir deras dan mendidih membersihkan kaki-kakiku yang tak bersarung sedang tanganku memegang erat tali yang sedikit tak bisa kupercaya.

Istirahat lagi dibangunan tua penuh sampah dan lagi-lagi kubasuh wajahku yang lapar menunudukan kepalaku diatas tikar yang kubeli untuk malam nanti. Bosan aku, sedari tadi hanya pohon-pohon yang kutatap, namun sekarang aku harus terus memacu jantungku bersama tanah yang meninggi sekitar 30 derajat membuat napas dan langkahku berat, tapi ini bukan akhirku. ku pacu lagi semangatku meninggalkan satu persatu teman-teman yang katanya kuat. Tantangan pertama telah kulalui, dan sekarang didepan mataku hanya ada tebing yang harus kudaki tanpa tali, jika sedikit saja tidak hati-hati maka nyawa akan pindah ke alam sana. Luar biasa, tebing itu telah aku taklukan dan sekarang aku duduk dengan hadiah yang tak pernah kebayangkan. Takan ada yang seperti ini dibawah sana, baru kali ini kulihat panorama yang tak dapat dipercaya oleh mata. setengah jam kutatapi usahaku, dan sekarang tinggal menuju puncak, puncak yang selalu ingin aku taklukan, semangatkupun kubalut kembali dengan langkah ini meninggalkan teman-teman yang payah menurutku. Dipuncak aku terperangah tak sadarkan diri melihat panorama yang mampu menghilangkan rasa. Puncak ini yang kutunggu-tunggu, dan disini kusadari bahwa gunung tak setinggi apa yang kubayangkan selama ini, ternyata disini aku lebih tinggi daripada gunung ini. Mimpiku mendakimu gunung, terima kasih karena kau mau memberiku kesempatan untuk menaklukanmu. Kenanganku bersamamu Gunung Gede-Pangrango.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar