Cari Blog Ini

Sabtu, 04 April 2015

Aku (Juga) Manusia


Sejak umurku lima tahun sampai diumurku yang berkepala dua sekarang ini, hidupku tak seindah manusia yang normal. Di dunia ini cuma kami yang merasa kesulitan untuk menunjukan diri pada dunia luar, cuma kami orang-orang yang tak lengkap jasmani dan rohaninya, salah apa kami harus menanggung semua beban ini, salah apa.
Aku berkulit putih langsat, perawakanku tegap, tinggi seratus tujuh puluh sentimeter, hidungku mancung, rambutku pekat hitam, disisir belah sisi, bibirku tebal menawan, tak berkumis, kupangkas habis kumisku, agar selalu kelihatan muda, daguku terbelah, sedikit berjenggot, mukaku sedikit lonjong, muka putih bersih, namun tak dapat aku berlari dari kenyataan, mataku, mataku yang besar dan kelihatan ingin keluar dari tempatnya, dan aku sangat pendiam, diam, sungguh sangat diam, semua orang pasti kesal jika bertanya atau menyapaku, aku pasti selalu diam.
“belo, Guntur belo, mata si Guntur belo, Guntur belo” begitu orang-orang mencaciku.
Sejak orang-orang mencaciku, aku tak lagi bisa bernapas bebas, setiap ingin pergi keluar bersama ibuku, aku selalu was-was, selalu waspada jika nanti orang-orang disekitar mencaciku. Nampaknya efek dari penghinaan dan sifatku yang selalu diam selama lima belas tahun berpengaruh dalam kehidupanku, aku tak kunjung punya teman, tak bersekolah, karena teman-temanku yang sama-sama mencaci seperti orang kebanyakan, dan juga aku yang tetap bersikukuh mempertahankan sifatku yang diam membisu, guru bertanya saja kepadaku, aku tetap diam seribu bahasa. Sejak putus sekolah, yang aku lakukan hanya pergi ke pasar, melihat ibu dan ayah yang sedang berjualan, lalu sore harinya pulang sendiri, berjalan kaki, kadang-kadang anak muda yang masih berumur belasan mencaciku saat berpapasan.
“Guntur belo, Guntur belo, Guntur belo”.
“silakan kalian caci aku sepuas mulut kalian, aku takkan gentar, namun jika kalian mengejek ibuku, akan aku hajar habis-habisan” dalam hatiku.
Aku hanya diam, pasrah, tak dapat kutimpali cacian mereka, meski aku bisa, aku tak bisa marah, aku juga tak tahu, bingung dengan sikapku. Selain orang-orang yang terang-terangan mencaci didepan umum, ada satu lagi orang yang benar-benar kutandai, biar nanti aku bisa balas dendam. Dia seorang wanita, sungguh aku sangat kesal dan marah jika bertemu dengannya. Dia mencaciku sangat dalam, dia mencaciku dengan senyumannya, sakit, terasa sakit didadaku ketika dia tersenyum mencaciku, senyumannya bagiku bagaikan pisau berkarat yang sengaja langsung ditancapkan ke jantungku, perih. Dia wanita yang paling kubenci di dunia, entah siapa namanya, aku tak peduli pada wanita pendek, hitam, dan tua itu, aku tak peduli, lihat saja nanti saat aku mengepalkan keberanian, akan aku caci kau berkali-kali lipat sakitnya di depan umum, lihat saja, aku akan mempermalukanmu wanita pendek jelek itu.
Saat malam, saat ibu dan bapakku pulang ke rumah, aku juga harus waspada, pada bapakku yang mantan preman itu. Sejak aku mengerti kenapa aku selalu dimarahi jika berkata apapun kepada bapakku, bapak selalu menjawab dengan kasar padaku, itu karena dia malu, malu mempunyai anak sepertiku, malu pada tetangga, malu pada teman-temannya, malu pada keluarga, dan bahkan malu pada dirinya sendiri, untung saja ada ibu yang selalu menjaga dan menyayangiku, karena bapak sangat mencintai ibu, jika ada ibu, bapak tidak berani memarahiku, dan aku juga tak berani lagi untuk bertanya ataupun berbicara pada bapak.
Ibuku seorang ibu rumah tangga yang berjualan berbagai macam urusan dapur, garam, gula, cabe, bawang merah, bawang putih, kunyit, dan bumbu dapur lainnya, kadang-kadang juga menjual sayuran, itu juga jika ada keuntungan yang lebih, sedangkan bapakku sendiri yang membeli barang-barang keperluan ibu berdagang, bapak menyediakan barang, dan ibu yang menjualnya.
Dirumah masih ada satu lagi anggota keluargaku, dia lebih memprihatinkan kondisinya daripada aku, aku kehilangan fisik, sedangkan dia kehilangan jiwa, gila. Dia adalah kakak kandung ibuku, dia gila karena dicerai oleh suaminya, ditinggalkan begitu saja tanpa alasan yang jelas, karena dia sangat mencintai suaminya, dia sangat frustasi, pernah dia mencoba bunuh diri kata ibuku, namun tak sampai, ibuku memergokinya sebelum dia meneguk segelas obat nyamuk, sejak peristiwa tersebut dia menjadi gila, gila selamanya. Bapakku sama sekali tidak membencinya, dan aku benci kenapa hanya aku yang dibenci oleh bapakku, karena bapakku tak pernah membencinya, maka aku membencinya, melampiaskan semua amarah padanya, mengeluarkan emosiku sejadi-jadinya pada dia, kakak kandung ibuku yang gila, sebut saja namanya Pia.
Keseharian Pia semenjak gila hanya mengurung diri dikamar, berteriak-teriak tidak jelas, mandi harus dimandikan oleh ibuku, makan dan minum pun harus disuguhkan, begitu juga dengan buang air besar dan kecil ibuku yang membantunya. Saat ibu dan bapakku dipasar, sering sekali aku memarahinya tanpa sebab, aku tak pernah menyimpan hormat padanya, secuilpun tidak.
Kegiatan sehari-hariku sangat membosankan, hanya ke pasar, di pasar juga aku hanya melihat ibuku yang berjualan, tapi di pasar lebih nyaman, karena orang-orang di pasar tak pernah mencaciku, mungkin menghormati ibuku. Ada bagiku saat-saat dimana kehidupan tak membosankan, disaat itu bunga-bunga seperti berjatuhan dari langit, menghujaniku dengan harumnya aroma bunga langit, saat itu adalah saat aku bertemu dengan wanita yang aku impikan, yang aku cintai, yang aku akan jadikan pendamping setia dalam sisa-sisa hidupku, namanya Andini, tetanggaku yang pintar, cantik, supel, memang sedikit angkuh, namun tak pernah malu dan mencaci padaku yang tak biasa ini.
Aku tahu, aku sadar diri, tak pantas seorang yang buruk rupa seperi diriku disandingkan dengan malaikat cantik dan rupawan. Walaupun kenyataan selalu pahit bagiku yang fisiknya tidak normal ini, tak apa, tak apa aku jatuh hati padanya, aku juga manusia, punya hati dan perasaan, dan siapa juga yang melarang jatuh cinta padanya, pada Andini, bidadari yang menjelma, tak ada yang melarang bukan.
Hujan yang bersekongkol dengan angin seakan memerintah, untuk mengecap kembali mega yang selalu hilang oleh malam, membuka kembali rahasia-rahasia yang disimpan oleh langit yang merekah, meminta-minta agar mengingat akan indahnya langit biru berbunga harum manis, dan abu yang anggun, yang bermain disudut bangku, sedang asyik memilin-milin waktu, bersama kuning madu yang tersembunyi dibalik hitamnya rembulan, menguatkanku akan indahnya merah jambu, kaulah Andiniku.
Andini, gadis cantik, tetanggaku yang baik hati dan menawan, seorang receptionist di Bank Kota, aku taksir tingginya sama sepertiku, kulitnya putih alami, wajahnya oval, ada lesung pipi diwajahnya saat dia tersenyum, rambutnya lurus hitam, jika dirumah rambutnya sering dikuncir satu, matanya bulat sedang, kupingnya kecil khas orang-orang pintar, kakinya mulus, seksi, tak ada kekurangan yang nampak padanya, aduhai bodinya. Tak jarang pria sepertiku selalu memikirkannya, selalu mencari perhatian saat dia dirumah, berpura-pura ingin pinjam sesuatu, padahal aku hanya ingin melihat wajahnya yang membiaskan ketentraman, untuk kubawa pulang, untuk kuabadikan dalam ingatan.
***
Malam ini malam minggu, semua laki-laki yang seumuran dikampungku pergi bermain, entah itu bermain dengan teman laki-lakinya, atau bermain dengan teman-teman perempuannya, aku tak peduli, karena aku laki-laki yang bermalam minggu dirumah, nonton tv di ruang tengah dengan ibu, dan aku juga benci dengan malam minggu, karena ada saja laki-laki yang mengunjungi Andini pada malam minggu, malam minggu sungguh malam yang aku benci. Untungnya bapak selalu keluar pada malam minggu, bermain kartu dengan teman-temanya, mungkin sambil berjudi, dan aku senang bisa nonton tv berdua dengan ibu, kalau saja bapak tidak keluar saat malam minggu, aku bisa terus-terusan kesal dikamarku sambil memperhatikan dari jendela Andini dan laki-laki lain sedang bercanda berdua diluar, entah apa yang sedang mereka bicarakan, aku tak tahu, aku tak mau-menau.
Gerimis datang, angin kencang, ibu was-was, mimik wajah ibu tak seperti biasanya khawatir pada bapak yang belum pulang, padahal sudah jam sepuluh malam, padahal biasanya bapak pulang tepat jam sembilan malam.
“Bu… Bu minah, Bu minah, Bu minah” teriak seseorang dari luar memanggil ibuku.
“iya, ada apa ya pak malam-malam begini?”
“anu Bu, suami ibu”
“suami saya kenapa ya pak?”
“suami ibu sudah me…, ayo Bu ikut saja sama saya ke pos ronda”
Ibuku diam saja, matanya memerah, dia seakan tahu apa yang terjadi dengan bapakku, ibu ikut begitu saja dengan bapak tua itu, sedangkan aku dirumah menyepi dengan tv.
Lima belas menit berlalu, didepan rumah orang-orang telah ramai, ibuku menangis, menjerit histeris, mengumpat pada takdir, kenapa dunia makin kejam. Aku keluar, berlari, mendekati ibu, memeluknya, seerat-eratnya, mendengar ibu terus menangisi kepergian bapak untuk selama-lamanya, aku ikut menangis, bukan karena kepergian bapak, tapi karena melihat ibu menderita dan tersiksa, melihat ibuku yang bercucuran air mata, ingin sekali aku berteriak sejadi-jadinya, “siapa yang membikin ibuku macam ini” tantangku pada dunia.
Esoknya, pagi-pagi sekali bapakku dikebumikan, sedangkan ibuku tak henti-hentinya merengek dari malam sampai selesai penguburan, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan rengekan ibu, aku harus apa, entah, baru kali ini aku melihat ibu menangis sejadi-jadinya, terlihat sekali sayangnya ibu pada bapakku, semoga jika nanti aku pergi duluan, ibuku bisa menangis lebih keras daripada saat kehilangan bapak, semoga sayangnya yang paling hanya untukku seorang, semoga.
Setelah semua orang pergi dari penjarahan, tinggal aku dan ibu disitu berdiam diri menatapi dan meratapi kuburan bapak, cuma kami, hening. Lima belas menit ibu merengek, tangannya mengusap-usap tanah kuburan bapak, air matanya bercucuran tak karuan, aku kebingungan untuk mengajak dia pulang, aku beranikan menyerukan suara.
“Bu, ayo pulang”
Ibuku tak menjawab, rengekannya sudah mereda, namun masih tetap diam.
“Bu, ayo kita pulang”
Ibuku masih diam, tapi dia menguatkan hati dan pijakannya untuk pulang, dan aku gandeng tangannya, biar kuat, biar perasaanku mengalir melalui tangannya, dan aku masukkan kata-kata melalui sentuhan tanganku bahwa masih ada aku, anakmu yang akan selalu ada disampingmu bu, ada aku.
Di perjalanan pulang masih kulihat bekas tangisan diwajahnya, sulit kulukiskan bagaimana perasaan yang bergejolak dan berkecamuk dalam jiwanya, aku hanya bisa diam. Orang-orang yang melihatku merasa iba atas takdir yang semena-mena merenggut bapak yang dicintai oleh ibuku, bapak yang menjadi penguat dan tulang punggung keluarga, meski aku benci padanya.
Disamping itu anak-anak belasan tahun yang sering mencaciku berpapasan dan melihatku dengan mata kasihannya, tak sanggup lagi mereka menghinaku, karena aku sudah tak pantas dihina, tak dihina saja aku sudah hina. Baru aku tahu dari orang-orang yang berbisik mengenai kematian bapakku, katanya bapakku mati ketika dia sedang bermain kartu di pos ronda. Malangnya nasibku, bertambah pula beban hinaan yang menempel dalam pundakku, bukan untuk sehari, sebulan, ataupun setahun, tapi untuk selama-lamanya, sepanjang aku hidup.
Seminggu berlalu meninggalkan jejak-jejak kehampaan, yang menghantui ibuku, ibu frustasi, tak berjualan lagi ke pasar semenjak bapak meninggal, dia murung, tak urung mau makan, tak mau keluar, cuma air mata yang membekas dikedalaman hati, cuma duri-duri yang menyiksa kala siang maupun malam, dan aku disini, disamping ibuku, cuma bisa diam.
Sudah genap tiga puluh hari ibuku bermurung durja, kini kami kehabisan uang, tak tahu lagi harus kemana mencari uang. Di malam ini, malam minggu yang aku benci, ibu nekat, jam tujuh malam meninggalkan aku berdua denga Pia yang gila, katanya ibuku mau mencari uang ke negeri seberang. Ibuku jadi TKW di Malaysia, rela berpisah dengan anak satu-satunya.
“Tur, setelah ibu ada di Malaysia, ibu nanti kirim uang sebulan sekali, dan jangan lupa jaga dan urus Bu’de Pia baik-baik ya, kaya kamu menjaga ibu”
“Bu, jangan pergi ke Malaysia, nanti Guntur disini ama siapa”
“Tur, ibu juga sebenarnya gak mau jauh dari kamu, tapi mau gimana lagi, cuma ini satu-satunya untuk menyambung hidup kita, cuma ini”
Aku diam, tak mengiyakan omongan ibu dan juga tak melarang ibu ke Malaysia, membiarkan ibuku pergi begitu saja, membatu di depan tv. Harus bagaimana aku memulai hidup tanpa ibu, tanpa belahan hatiku, aku bisa gila bu. Aku tak bisa hidup seperti ini, hidup dengan Pia gila itu, aku tak mau. Aku putuskan tuk mencari teman sepenanggungan, sahabat hidup semati, seorang istri, yang terpikir dibenakku hanya Andini.
Bagaimana kabar Andini sebulan ini, aku sedikit lupa tentangnya, entah kenapa aku ingin mengetahui kabarmu, mungkin karena kicauan angin yang selalu mendorongku mendobrak batas normal para lelaki. Didepan rumahku kusapa dia yang sedang duduk melamun di pekarangan rumahnya, untuk yang pertama kali kusapa dia dengan memanggil namanya.
“Andini”
“iya Tur, ada yang bisa aku bantu ?”
Aku diam mendengar jawabannya, aku gugup, aku kembali saja kedalam rumah, menutup pintu dengan perlahan. Didalam rumah aku bingung, kosong, seakan tak percaya Andini membalas semua kicauku, mungkin langit berkehendak lain. Tadinya aku ingin menghapus semua ingatan yang berserakan dalam napasku, melupakanmu Andini, walau berat.
Sekali lagi Andini bertanya kepadaku melalui pesan singkat yang sengaja dia kirim, mungkin dia mengkhawatirkanku, dan darimana pula dia tahu nomor ponselku, aku tak tahu.
“ada apa?” Andini bertanya dalam ruang hampa.
Aku hanya bisa diam, tak menjawab pesan singkatnya. Aku bingar, tak dapat mengendalikan diri, semalam suntuk mendengar Andini lewat celah-celah mimpi, “harus bagaimana memberanikan diri, agar Andini mau menjadi istriku” resahku menemani malam.
Lagi, kutatapi rinai hujan yang kencang seperti pikiranku yang berada di peraduan, bingung, malas bertengger. Kecantikan Andini masih seperti dulu, mengalahkan lelaki yang tak punya harga diri, seperti aku. Kubuka lagi awal yang tak bisa kumulai, melalui dunia maya akan kukirimkan salam sekaligus perpisahan. Membaca pikiran Andini, tak mudah. Mau berkata apa lagi, menyapa saja aku tak sanggup, apalagi membentangkan senyum yang penuh tanda tanya. Mungkin sedikit renungan yang dapat membuka lebar garis wajahmu, Andini. Yang kutahu ada binar-binar senyum yang ditutupi oleh keangkuhan, seperti gambar-gambar yang selalu kuratapi setiap jengkalnya, memudahkanku untuk menemukanmu, wahai gadis impianku, Andini, namun mau berbuat apa lagi, aku tak tahu seluk-belukmu, Andini, gadis jelitaku.
Aku harus beranikan diri untuk melamarnya, walau secuil, aku harus berkata-kata untuk meminangnya, kali ini di malam minggu aku harus ungkapkan semua, malam minggu ini harus jadi malam minggu yang membahagiakan bagiku. Setidaknya sebelum napasku menghilang, dapat kusampaikan sepotong mimpi untuk meraih Andini, bersama ilalang hitam, bersama kemarau yang berkepanjangan, bersama ringkihnya tubuhku yang memakan sisa-sisa garam, walaupun kutahu, aku tak seutuhnya ada, apalah daya, aku manusia yang tak sempurna. Tepat jam tujuh malam aku ke rumahnya.
“Andini, Andini”
“iya sebentar Fer”
“Fer ?, kenapa Andini memanggilku dengan sebutan Fer” dalam bingungku.
“Andini, ini aku Guntur, mau ngobrol sebentar, penting”
“oh Guntur, aku kira Ferdi, sebentar ya Tur”
Tak lama Andini keluar, duduk bersebelahan denganku di beranda rumahnya.
“ada apa Tur? Mau minjem sesuatu? Mau minjem apa?”
“mmm… anu An, ini, anu..” aku gugup, keringatan.
“apa? Katanya penting? Ngomong aja apa yang bisa Andini bantu?”
“mmm… anu, saya mau ngelamar Andini, Andini mau gak jadi istri Guntur?” dengan cepat aku berkata.
“istri?” Andini keheranan.
“iya, jadi istri Guntur” aku menegaskan.
“jangan main-main soal beginian Tur” Andini mulai serius, matanya mulai menajam.
“saya gak maen-maen An… saya serius”
Andini menghembuskan napas seolah dunia akan runtuh “hmmph… maaf ya Tur, kayanya kita lebih cocok temenan, sekali lagi maaf ya Tur, aku udah tunangan ama Ferdi sebulan yang lalu. Perempuan yang lebih baik daripada aku pasti banyak kamu temuin di luar sana Tur, sekali lagi maaf ya Tur”
Aku diam lagi, tak bisa berkata-kata, aku pergi meninggalkan rumah Andini, tanpa pamit, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada Andini, lidahku kelu, hatiku pilu, tiba-tiba hujan didalam dadaku, ombak bergemuruh, badai menerjang, cintaku bertepuk sebelah tangan, aku malu, bertambah pula bebanku, siapa yang akan menerimaku.
“Tur, Tur, Guntur, mau kemana?” teriak Andini memanggilku dari rumahnya.
Tetap, aku tetap diam, tak menoleh ke belakang sedikitpun, hatiku remuk, aku pulang dengan beban yang tertumpuk.
Di rumah, aku tepekur seharian, mencaci takdir, mencerca dunia, merengek pada waktu. Aku ingin hidup, aku ingin menikmati dunia, aku juga manusia, aku ingin hidup bebas, bukan dengan semua beban ini, bukan dengan semua cacian, bukan.
Didalam keheningan, kudapatkan kesadaran melalui angin, aku sadar, untuk apa aku selalu menggerutu atas nasib yang selalu menimpaku, bukankah beban ini seharusnya menjadikanku kuat, persetan dengan cacian orang-orang, masa bodoh dengan bapak yang tak pernah ingin aku terlahir ke dunia, masa bodoh dengan cinta yang diberikan duka, dan tentang Andini, enyah saja dari bumi.
Aku harus menjalani kehidupanku yang sekarang, bukan yang kemarin, dan bukan pula berharap pada lusa yang tak jelas janjinya, cukup aku hidup untuk sekarang, akan kujalani hidup ini, akan aku urus dan kujaga Bu’de Pia sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh ibuku, dan maafkan aku bapak, jika anakmu ini tak bisa membanggakanmu, tolong maafkan aku.
Aku berjanji pada diriku sendiri, tak akan ada lagi seorang Guntur yang dulu, yang selalu diam, yang selalu mau dicaci orang-orang, dan yang tak pernah mengenal arti hidup, tak akan ada lagi. Sekarang aku Guntur yang baru, Guntur yang akan melotot dan menghajar siapapun yang mencaciku, Guntur yang akan menolong siapapun ketika ada yang susah, dan Guntur yang akan membanggakan bapaknya, “Pak akan Guntur panjatkan terus doa agar bapak bisa tersenyum di alam sana, agar kuburan bapak luas, agar nanti bapak bisa menghirup udara firdaus yang segar di keabadian surga, dan agar bapak tahu bahwa Gunturlah anak satu-satunya kesayangan bapak”. Aku juga akan menjadi penyayang terhadap siapapun, khususnya terhadap ibu, akan aku peluk dia dalam kehangatan rindu saat pulang nanti, kujemput dia, kucium tangannya, kurangkul dia sambil menangis, sambil mengucurkan air mata kebahagiaan, “Bu, Guntur akan melaksanakan amanah ibu, memberikan makan dan minuman cinta untuk Bu’de Pia, memandikannya dengan kasih sayang, bahkan akan menghiburnya dengan tawa yang ceria jika perlu” janjiku. Aku akan setia menunggumu Bu, pulanglah dengan cepat Bu, karena aku rindu.
Hari minggu, Pagi ini cerah, terang, jelas, segar, pas jam setengah sembilan. Baru saja aku melangkah sejengkal ke pintu cahaya, cobaan nampaknya sudah ada, Andini ke rumahku tiba-tiba bersama wanita yang paling aku benci dengan senyumannya yang dulu selalu menghinaku, namun aku sudah berjanji pada diriku akan menjadi Guntur yang baru, dan aku takan membenci siapapun, termasuk dia, wanita yang bersama Andini”
“Tur, Guntur, Guntur”
“sebentar”
“pagi Tur, udah sarapan belum”
“udah An…”
“ini ada beberapa kue basah, lumayan untuk cemilan”
Andini memang gadis yang baik, pria manapun akan beruntung memilikinya.
“makasih ya Andini”
“bilang makasihnya ke Ani dong Tur, kan dia yang bawain kamu kue basah itu”
“Ani, siapa Ani ?”
“loh… kamu gak tahu Tur, ini kenalin Ani tetangga sebelahku, dia sering ngomongin kamu”
“Pasti Ani ngomongin tentang kekuranganku” pikirku.
“oh ini namanya Ani, maaf ya mba saya gak tau, makasih ya atas kuenya”
Ani cuma menimpaliku dengan senyuman, senyuman yang sama seperti dulu.
“oh iya Tur, aku lupa ngasih tau ke kamu, aku tau nomor ponsel kamu dari dia”
   “Ani tau nomor ponselku dari mana ya” pikirku.
“maaf mba Ani, kalau boleh tau, mba tau nomor ponsel saya dari siapa?”
“saya tau nomor ponsel Mas Guntur dari ibunya Mas Guntur”
Aku tak pernah tahu tentang hal ini, dan ibuku juga tak pernah memberitahu.
“kita pamit ya Tur, kalau perlu apa-apa bilang aja ya Tur”
“Ok, makasih banyak ya”
Andini sudah beranjak untuk pulang, sedangkan Ani memberikan aku surat, aku juga tak tahu surat apa itu. Setelah Ani memberikan surat itu kepadaku dengan cepat, Ani beranjak terburu-buru menyusul Andini.
Segera aku buka surat itu didalam rumah. Aku baca dengan teliti surat itu beberapa kali, aku terheran-heran, ternyata aku salah besar tentang Ani, tentang senyumannya yang dulu, aku pikir itu sebuah senyuman hinaan, ternyata itu adalah senyuman untuk orang yang Ani sayang. Dalam suratnya, secara terang-terangan Ani mengakui bahwa Ani sangat suka kepadaku semenjak pertama kali bertemu denganku, saat berpapasan dulu. Dalam surat Ani memberitahuku bahwa Ani ingin mempunyai suami seperti aku, Ani ingin diriku melamarnya, “pinanglah aku, aku akan selalu menunggumu Mas Guntur” kalimat terakhir dalam surat Ani.
Aku bingung harus menjawab apa, aku tak tahu tentang Ani, dan aku sama sekali tak menyukainya. Ani Pendek, mungkin lebih rendah dari bahuku, kulitnya hitam, rambutnya sedikit keriting tak terurus, hidungnya kecil pesek, matanya sipit, kupingnya lebar, dan umur Ani yang lebih tua dua tahun dariku, namun bibirnya memang sedikit tipis, imut bagiku.
Aku harus tegas terhadap diriku, aku masih belum punya kepastian untuk melamar Ani atau tidak, dan aku khawatir mengganggu keadaan ibu yang sedang bekerja di Malaysia, jika aku ceritakan masalah ini pada ibu. Nanti saja setelah ibu pulang ke rumah, aku akan cerita masalah ini pada ibu, jika ibu setuju Ani menjadi istriku, maka secepatnya aku akan melamar Ani.
Aku tidak ingin siapapun berharap padaku yang masih belum bisa berbuat apa-apa ini, aku tidak ingin memberikan harapan kosong pada siapapun, maka aku harus membalas surat Ani, menegaskan suatu keadaan. Aku kirim surat itu melalui Andini, isinya seperti ini.


Kota Hujan, 20 September 2010


Kepada Ani yang penuh kasih sayang

Ani, aku masih belum punya apa-apa untuk diberikan kepadamu, kerja saja aku tak punya. Tolong jangan terlalu berharap padaku yang banyak kekurangan ini.
Ada yang perlu aku tegaskan kepadamu, aku tidak menunggumu, kau tidak menunggu apa-apa dariku, dan kita tidak punya keterikatan apapun atau janji apapun. Jadi, dengan berjalannya waktu, jika kau berubah pikiran dan menemukan yang lebih baik dariku, silahkan, tidak menjadi masalah bagiku. Begitu juga sebaliknya, aku tetap memberi kesempatan untuk yang lain.


Guntur yang bodoh



Continued…..

1 komentar:

  1. seneng liat cerita ini lagi... denga. tambahan cerita yang menarik

    jadi menurut aku ini ga layak "di injak"
    seperti yang mas fathy bilang di komenan sosmed waktu itu
    ya mungkin udah lupa jga ya hehe

    BalasHapus